Gadget . 03/11/2026, 14:15 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
fin.co.id - Teknologi keyless pada mobil memungkinkan pengemudi membuka pintu dan menyalakan mesin tanpa harus mengeluarkan kunci dari kantong. Cukup mendekati kendaraan dengan membawa remote, sistem akan mengenali keberadaan kunci dan memberikan akses kepada pengemudi. Namun, bagaimana perangkat kecil tersebut bisa terdeteksi meskipun tersimpan di dalam tas, saku celana, atau bahkan tertutup pakaian?
Kemampuan tersebut bukan berasal dari GPS atau koneksi internet, melainkan teknologi komunikasi radio jarak pendek yang dirancang untuk mengenali kunci berdasarkan kedekatannya dengan kendaraan.
Sistem keyless entry bekerja menggunakan komunikasi nirkabel antara remote kunci dan modul elektronik yang terpasang di dalam mobil. Remote tersebut memiliki komponen elektronik, termasuk pemancar, penerima sinyal, dan identitas digital khusus yang digunakan untuk proses autentikasi.
Ketika pengemudi mendekati mobil, antena yang terpasang pada kendaraan akan mengirimkan sinyal radio untuk mencari keberadaan remote. Jika remote berada dalam jangkauan yang ditentukan, perangkat tersebut akan merespons sinyal dengan mengirimkan informasi identitasnya.
Modul kontrol kendaraan kemudian memeriksa apakah identitas tersebut sesuai dengan kunci yang telah terdaftar. Jika proses autentikasi berhasil, sistem dapat mengizinkan pintu dibuka melalui gagang pintu atau tombol tertentu.
Proses serupa berlangsung ketika pengemudi ingin menyalakan mesin. Mobil akan memastikan bahwa kunci yang sah berada di dalam kabin sebelum mengaktifkan sistem pengapian atau mengizinkan mesin dinyalakan.
Salah satu alasan teknologi keyless dapat bekerja tanpa mengeluarkan remote adalah penggunaan gelombang elektromagnetik atau gelombang radio.
Gelombang radio dapat merambat melewati berbagai material nonlogam, termasuk kain pakaian, kulit tas, dan bahan plastik. Material tersebut umumnya tidak cukup kuat untuk menghalangi komunikasi radio pada frekuensi yang digunakan sistem kendaraan.
Karena itu, remote tetap dapat berkomunikasi dengan mobil meskipun berada di dalam kantong celana atau tas.
Berbeda dengan benda yang sepenuhnya terbuat dari logam, kain dan bahan pakaian sehari-hari tidak membentuk penghalang elektromagnetik yang efektif. Namun, kemampuan sinyal menembus suatu material tetap dipengaruhi oleh frekuensi, ketebalan, komposisi, serta kondisi lingkungan.
Artinya, remote keyless tidak harus terlihat secara langsung oleh kendaraan agar bisa dikenali. Selama sinyal radio masih dapat diterima dan proses autentikasi berhasil, sistem dapat menjalankan fungsinya.
Tidak semua sistem keyless menggunakan teknologi komunikasi yang sama. Namun, banyak sistem keyless konvensional memanfaatkan frekuensi radio khusus, bukan Bluetooth atau GPS.
Pada sejumlah kendaraan, komunikasi antara mobil dan remote menggunakan frekuensi rendah atau LF untuk mengirimkan sinyal pencarian. Remote kemudian merespons menggunakan frekuensi radio yang lebih tinggi, misalnya UHF, untuk menyampaikan identitas digitalnya.
Sementara itu, sistem yang lebih modern dapat menggunakan teknologi Ultra-Wideband (UWB), Bluetooth Low Energy (BLE), atau kombinasi beberapa teknologi tersebut.
UWB memiliki kemampuan pengukuran waktu tempuh sinyal yang dapat membantu kendaraan memperkirakan jarak antara remote dan mobil. Kemampuan ini juga berguna untuk membedakan apakah kunci benar-benar berada di dekat kendaraan atau hanya terdeteksi melalui metode komunikasi yang berpotensi dimanfaatkan untuk serangan relay.
GPS memiliki fungsi berbeda. Teknologi tersebut digunakan untuk menentukan posisi perangkat berdasarkan sinyal satelit, bukan sebagai mekanisme utama untuk mengenali remote keyless ketika pengemudi mendekati mobil.
Mendeteksi keberadaan remote saja tidak cukup untuk membuka pintu atau menghidupkan mesin. Kendaraan juga harus memastikan bahwa perangkat tersebut merupakan kunci resmi yang telah dipasangkan dengan sistemnya.
Untuk melakukannya, teknologi keyless menggunakan proses autentikasi digital.
Salah satu metode yang umum digunakan adalah sistem challenge-response. Dalam proses ini, kendaraan mengirimkan tantangan digital berupa kode tertentu kepada remote. Remote kemudian memproses tantangan tersebut menggunakan mekanisme kriptografi dan mengirimkan respons yang sesuai.
Mobil akan memeriksa apakah respons tersebut benar. Jika cocok, akses dapat diberikan. Jika tidak, permintaan akan ditolak.
Metode ini membantu mencegah orang lain menggunakan perangkat pemancar biasa untuk meniru kunci kendaraan.
Pada sistem yang menggunakan rolling code atau kode bergulir, kode komunikasi juga dapat berubah mengikuti mekanisme tertentu. Dengan demikian, kode yang pernah digunakan tidak bisa begitu saja dipakai kembali untuk membuka kendaraan.
Pada kondisi normal, remote keyless tetap dapat terdeteksi meskipun berada di dalam tas. Akan tetapi, hasilnya bergantung pada bahan tas dan posisi remote terhadap kendaraan.
Tas berbahan kain, kulit, atau plastik biasanya tidak menjadi penghalang berarti bagi sinyal radio. Sebaliknya, tas dengan lapisan logam atau material khusus yang dirancang menghambat gelombang elektromagnetik dapat mengurangi kemampuan komunikasi antara remote dan mobil.
Hal serupa bisa terjadi jika remote disimpan di dalam wadah logam tertutup. Sinyal radio dapat mengalami pelemahan atau terhalang sehingga kendaraan kesulitan mengenali keberadaan kunci.
Selain material, jarak juga berpengaruh. Setiap kendaraan memiliki batas jangkauan komunikasi yang berbeda, bergantung pada rancangan antena, daya pemancar, dan teknologi yang digunakan.
Meskipun praktis, sistem keyless tetap memiliki risiko keamanan. Salah satu metode serangan yang dikenal adalah relay attack.
Serangan ini dilakukan dengan menggunakan perangkat elektronik untuk meneruskan komunikasi antara mobil dan remote yang berada di lokasi berbeda. Misalnya, remote tersimpan di dalam rumah, sementara pelaku berada di dekat kendaraan.
Perangkat tersebut berusaha membuat mobil seolah-olah berada cukup dekat dengan kunci yang sah. Jika sistem kendaraan tidak memiliki perlindungan jarak yang memadai, komunikasi dapat diteruskan sehingga mobil berpotensi menganggap remote berada di dekatnya.
Untuk mengurangi risiko tersebut, beberapa produsen telah menerapkan teknologi pengukuran jarak, autentikasi yang lebih kuat, serta fitur pengamanan tambahan.
Pemilik mobil juga dapat menggunakan wadah pelindung sinyal atau Faraday pouch untuk menyimpan remote ketika tidak digunakan. Wadah tersebut dirancang menghambat gelombang elektromagnetik sehingga komunikasi nirkabel dengan kendaraan tidak mudah berlangsung.
Kunci mobil keyless dapat terdeteksi dari dalam kantong karena menggunakan gelombang radio yang mampu merambat melewati material seperti kain, kulit, dan plastik. Kendaraan kemudian melakukan komunikasi dua arah dengan remote untuk memeriksa identitas digital sebelum memberikan akses membuka pintu atau menyalakan mesin.
Teknologi ini menunjukkan penerapan prinsip elektromagnetik dan kriptografi dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan gelombang radio menembus material tertentu merupakan bagian dari ilmu fisika modern, sedangkan proses autentikasi digital menjadi lapisan keamanan untuk memastikan kendaraan hanya dapat diakses menggunakan kunci yang sah.
Dengan memahami cara kerjanya, pengguna tidak hanya mengetahui alasan teknologi keyless terasa praktis, tetapi juga dapat lebih memahami pentingnya menjaga keamanan remote mobil.
National Institute of Standards and Technology (NIST) - Advanced Encryption Standard (AES).
IEEE - IEEE 802.15.4z: Enhanced Ultra Wideband (UWB) Physical Layer (PHY) and Associated Ranging Techniques.
European Telecommunications Standards Institute (ETSI) - Short Range Devices (SRD).
Texas Instruments - Automotive Passive Entry Passive Start (PEPS) System.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media