Tips n Trik . 08/10/2026, 13:23 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
Korban menerima pesan bahwa ada paket yang bermasalah, alamat perlu diperbarui, atau biaya pengiriman harus dibayar.
Pelaku kemudian mengirimkan tautan atau meminta korban mengunduh aplikasi tertentu.
Modus ini memanfaatkan kebiasaan masyarakat menerima paket dari berbagai layanan sehingga korban sering tidak langsung curiga.
Pelaku mengaku salah transfer atau mengatakan korban menerima pengembalian dana.
Korban kemudian diminta mengirimkan uang kembali, membayar biaya tertentu, atau memberikan informasi rekening.
Dalam skenario lain, pelaku berpura-pura sebagai layanan pelanggan dan menawarkan bantuan untuk proses refund. Tujuannya tetap sama, yaitu mendapatkan akses atau uang korban.
Pelaku berusaha mengambil alih akun korban dengan mendapatkan password, kode OTP, PIN, atau informasi autentikasi lainnya.
OTP sering dijadikan target karena dapat menjadi bagian penting dari proses verifikasi transaksi atau login.
Prinsip paling penting adalah jangan pernah memberikan OTP atau PIN kepada orang lain, termasuk seseorang yang mengaku sebagai petugas bank atau perusahaan.
Love scam memanfaatkan hubungan emosional.
Pelaku biasanya membangun komunikasi dalam waktu tertentu melalui media sosial atau aplikasi kencan. Setelah kepercayaan terbentuk, muncul berbagai alasan untuk meminta uang.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media