Gadget . 21/09/2026, 11:00 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
Ada masalah lain yang bahkan lebih kompleks, yakni privasi.
Smartphone biasanya harus diarahkan secara jelas ketika digunakan untuk merekam seseorang. Kamera smart glasses berada pada perangkat yang dikenakan secara normal di wajah sehingga aktivitas perekaman bisa lebih sulit dikenali orang lain.
Meta menggunakan capture LED pada kacamata AI untuk memberikan tanda ketika kamera digunakan merekam. Menurut Meta, menutup atau menonaktifkan lampu indikator tersebut juga akan menonaktifkan kamera.
Namun, kekhawatiran privasi belum selesai.
Reuters pada 18 September 2026 melaporkan meningkatnya pengawasan terhadap smart glasses di Prancis terkait persoalan privasi dan kemungkinan perekaman tanpa persetujuan. Australia juga mempertimbangkan pembatasan penggunaan smart glasses berkamera di gedung pemerintah.
Persoalan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan smart glasses bukan hanya bergantung pada kemampuan AI, tetapi juga penerimaan sosial dan aturan penggunaannya.
Skenario yang lebih masuk akal bukanlah smartphone tiba-tiba menghilang.
Sebaliknya, fungsi smartphone dapat berubah.
HP dapat tetap berada di dalam saku sebagai pusat pemrosesan, koneksi internet, penyimpanan dan pengelolaan aplikasi. Smart glasses kemudian menjadi antarmuka yang digunakan untuk berinteraksi dengan AI sepanjang hari.
Hubungannya dapat menyerupai smartwatch saat ini, tetapi jauh lebih kuat karena kacamata berada tepat pada indera penglihatan dan pendengaran pengguna.
Jika kemampuan AI semakin berkembang, semakin banyak aktivitas sederhana yang sebelumnya membutuhkan layar smartphone dapat dipindahkan ke kacamata.
Mengecek arah, membaca notifikasi, menerjemahkan tulisan, memotret, menjawab panggilan, bertanya kepada AI atau mencari informasi mungkin tidak lagi membutuhkan pengguna mengeluarkan HP.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media