Gadget . 21/09/2026, 11:00 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
Untuk saat ini, lebih tepat melihat smart glasses sebagai perangkat pendamping daripada pengganti smartphone.
Bahkan intelligent eyewear yang diumumkan Google masih dirancang untuk bekerja bersama smartphone Android maupun iOS.
Smartphone memiliki sejumlah keunggulan yang sulit digantikan. Layar besar tetap lebih nyaman untuk mengetik panjang, membaca dokumen, menonton video, mengedit foto, bermain game atau mengelola berbagai aplikasi sekaligus.
Kacamata memiliki keterbatasan fisik yang jauh lebih ketat.
Produsen harus memasukkan kamera, mikrofon, speaker, prosesor, baterai, antena dan sensor ke dalam bingkai yang tetap ringan dan nyaman digunakan berjam-jam.
Semakin banyak kemampuan yang dimasukkan, semakin besar pula kebutuhan energi dan pembuangan panasnya.
Karena itu, setidaknya dalam waktu dekat, smartphone kemungkinan tetap berfungsi sebagai pusat komputasi utama sementara smart glasses menjadi antarmuka yang lebih dekat dengan pengguna.
Baterai merupakan salah satu hambatan teknis terbesar.
Smartphone mempunyai ruang cukup besar untuk baterai berkapasitas ribuan mAh. Kacamata tidak mempunyai kemewahan ruang seperti itu.
Baterai harus ditempatkan di bagian bingkai tanpa membuat perangkat terlalu berat.
Pemrosesan kamera secara terus-menerus juga membutuhkan energi. Jika AI, sensor, konektivitas dan layar augmented reality berjalan bersamaan, konsumsi daya dapat meningkat.
Produsen akhirnya harus mencari keseimbangan antara kemampuan perangkat, bobot, temperatur dan ketahanan baterai.
Perkembangan chip berdaya rendah dan pemrosesan AI yang semakin efisien akan menjadi faktor penting agar smart glasses benar-benar dapat digunakan sepanjang hari.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media