Tips n Trik

AI Bisa Meniru Suara Manusia, Begini Cara Mengenali Panggilan Palsu

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat suara buatan semakin sulit dibedakan dari suara manusia asli. Teknologi yang

AI Bisa Meniru Suara Manusia, Begini Cara Mengenali Panggilan Palsu
Panggikan Palsu, , Ilustrasi: DALL·E 3

fin.co.id - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat suara buatan semakin sulit dibedakan dari suara manusia asli. Teknologi yang sebelumnya banyak digunakan untuk pengisi suara digital, asisten virtual, atau membantu orang yang kehilangan kemampuan berbicara kini juga dapat disalahgunakan untuk penipuan.

Salah satu teknologi yang perlu diwaspadai adalah AI voice cloning. Teknologi ini memungkinkan sistem AI mempelajari karakter suara seseorang, termasuk intonasi, aksen, ritme berbicara, hingga karakteristik tertentu yang membuat suara terdengar khas.

Federal Trade Commission (FTC) Amerika Serikat menjelaskan bahwa perkembangan mesin text-to-speech memungkinkan suara manusia direplikasi dengan tingkat kemiripan yang semakin tinggi. Sejumlah sistem bahkan dapat memanfaatkan rekaman suara relatif singkat sebagai bahan untuk membuat tiruan suara.

Akibatnya, mengenali penipuan melalui telepon tidak lagi cukup hanya dengan mengandalkan kemampuan telinga untuk mengenali suara seseorang.

Penipu Bisa Mengambil Contoh Suara dari Internet

Salah satu masalah terbesar dalam era media sosial adalah banyaknya rekaman suara yang tersedia secara terbuka.

Video di media sosial, podcast, unggahan keluarga, rekaman wawancara, hingga video pendek dapat menyediakan sampel suara seseorang. FTC memperingatkan bahwa penipu dapat memperoleh potongan audio dari konten yang diunggah secara online, kemudian memanfaatkannya dengan perangkat voice cloning.

Setelah suara berhasil ditiru, pelaku dapat menggunakannya untuk berpura-pura menjadi anggota keluarga, teman, atasan, atau orang lain yang dikenal korban.

FTC memperingatkan:

"Don't trust the voice."

Artinya, suara yang terdengar sangat mirip dengan seseorang yang dikenal tidak lagi dapat dianggap sebagai bukti bahwa orang tersebut benar-benar sedang menelepon.

Panggilan Palsu Biasanya Memanfaatkan Situasi Darurat

Teknologi hanyalah salah satu bagian dari modus tersebut. Bagian lainnya adalah manipulasi psikologis.

Penipu biasanya berusaha menciptakan situasi yang membuat korban tidak memiliki banyak waktu untuk berpikir. Misalnya, penelepon mengaku sebagai anak atau anggota keluarga yang mengalami kecelakaan, ditangkap polisi, kehilangan dompet, atau membutuhkan uang untuk keperluan medis.

FTC mencatat bahwa penipuan darurat keluarga sering menggunakan tekanan emosional. Korban diminta segera mengirim uang dan terkadang diminta merahasiakan percakapan tersebut dari anggota keluarga lainnya.

Berita Terkait