Tips n Trik . 08/09/2026, 11:30 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
fin.co.id - Membuat laporan keuangan sering dianggap sebagai pekerjaan yang rumit karena melibatkan banyak angka, kategori transaksi, dan perhitungan. Kesalahan kecil ketika memasukkan data dapat membuat jumlah pemasukan, pengeluaran, maupun saldo akhir menjadi tidak sesuai.
Kini, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat membantu menyederhanakan proses tersebut. AI bisa digunakan untuk mengelompokkan transaksi, membuat rumus, membaca pola pengeluaran, hingga menyusun ringkasan kondisi keuangan dalam bahasa yang mudah dipahami.
Namun, AI bukan mesin yang selalu menghasilkan jawaban benar. Akurasi laporan tetap bergantung pada kelengkapan data, ketepatan instruksi, dan proses pemeriksaan yang dilakukan pengguna. Oleh karena itu, AI sebaiknya diperlakukan sebagai asisten pengolah data, bukan pengganti pemeriksaan manusia.
National Institute of Standards and Technology atau NIST menempatkan sifat “valid dan dapat diandalkan” sebagai salah satu karakteristik penting dalam sistem AI yang tepercaya. Prinsip tersebut juga relevan saat AI digunakan untuk membuat laporan keuangan.
Laporan keuangan sederhana pada dasarnya dibangun dari data yang terstruktur. Data tersebut dapat berupa tanggal transaksi, keterangan, kategori, nominal pemasukan, nominal pengeluaran, serta metode pembayaran.
AI mampu memproses data semacam ini dengan cepat. Misalnya, transaksi pembelian bahan baku dapat dimasukkan ke dalam kategori biaya operasional, sedangkan pembayaran dari pelanggan dapat dicatat sebagai pendapatan.
Selain melakukan pengelompokan, AI dapat membantu membuat rumus spreadsheet, mendeteksi kemungkinan transaksi ganda, membandingkan pengeluaran antarbulan, dan merangkum perubahan saldo. Kemampuan tersebut sangat berguna bagi pemilik usaha kecil, pekerja lepas, pengelola toko daring, maupun pengguna yang ingin mencatat keuangan pribadi.
Meskipun demikian, AI tidak mengetahui kondisi keuangan sebenarnya apabila data yang diberikan tidak lengkap. Apabila ada transaksi tunai yang lupa dicatat, laporan yang dihasilkan tetap akan keliru meskipun perhitungan AI terlihat rapi.
Langkah pertama adalah mengumpulkan seluruh catatan transaksi dalam satu tempat. Data dapat berasal dari rekening bank, dompet digital, nota pembelian, invoice, aplikasi kasir, atau catatan transaksi tunai.
Agar mudah diproses, susun data menggunakan kolom berikut:
Tanggal, Keterangan Transaksi, Kategori, Pemasukan, Pengeluaran, Metode Pembayaran, dan Catatan.
Sebagai contoh, pembayaran pelanggan sebesar Rp2.000.000 dicatat pada kolom pemasukan. Pembelian bahan baku sebesar Rp700.000 dicatat pada kolom pengeluaran. Jangan memasukkan keduanya ke dalam satu kolom nominal tanpa keterangan yang jelas karena dapat membingungkan proses pengolahan.
Gunakan format angka yang konsisten. Jangan mencampurkan penulisan “Rp1 juta”, “1.000.000”, dan “1M” dalam satu tabel. Format angka yang seragam akan mengurangi risiko kesalahan ketika data dijumlahkan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media