Tips n Trik

Apa Bisa Bikin Aplikasi tanpa Punya Kemampuan Coding? Sekarang Bisa!

Membuat aplikasi dahulu identik dengan menulis ribuan baris kode, memahami bahasa pemrograman, mengelola basis data, dan melakukan pengujian teknis. Proses

Apa Bisa Bikin Aplikasi tanpa Punya Kemampuan Coding? Sekarang Bisa!
Cara Membuat Website tanpa Skill Coding, Image: Andrea Piacquadio / Pexels

fin.co.id - Membuat aplikasi dahulu identik dengan menulis ribuan baris kode, memahami bahasa pemrograman, mengelola basis data, dan melakukan pengujian teknis. Proses tersebut membuat pengembangan aplikasi terasa sulit dijangkau oleh orang yang tidak memiliki latar belakang teknologi informasi.

Keadaan itu kini mulai berubah. Kehadiran platform no-code, low-code, dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence memungkinkan lebih banyak orang membuat aplikasi melalui perintah bahasa sehari-hari, komponen visual, serta sistem drag-and-drop.

Artinya, seseorang yang tidak menguasai bahasa pemrograman tetap dapat membuat aplikasi pencatatan keuangan, sistem reservasi, katalog produk, aplikasi inventaris, formulir pelayanan, hingga prototipe toko online. Namun, kemudahan ini bukan berarti seluruh proses dapat diselesaikan tanpa belajar sama sekali.

Apa Itu Platform No-Code?

No-code merupakan pendekatan pengembangan aplikasi yang memungkinkan pengguna menyusun fungsi aplikasi tanpa menulis kode secara langsung. Tombol, formulir, tabel, menu, halaman, dan alur kerja dapat dibuat dengan memilih serta menghubungkan komponen yang telah disediakan.

Cara kerjanya dapat dibandingkan dengan menyusun balok bangunan. Pengguna tidak perlu membuat setiap material dari awal karena berbagai bagian utama sudah tersedia. Tugas pengguna adalah menentukan bentuk, fungsi, dan hubungan antarkomponen.

Google, misalnya, menjelaskan bahwa AppSheet merupakan platform no-code yang memungkinkan pengguna membuat aplikasi dan proses otomatis tanpa menulis satu baris kode. Editor di dalamnya bahkan dapat menghasilkan prototipe berdasarkan data yang dimasukkan pengguna.

Sementara itu, platform seperti FlutterFlow menawarkan editor visual untuk membangun aplikasi yang dapat digunakan pada perangkat seluler, web, dan desktop. Hasil proyek tertentu juga dapat dipublikasikan ke Google Play Store atau Apple App Store setelah seluruh persyaratan pengembang dipenuhi.

Perbedaan No-Code, Low-Code, dan AI App Builder

Walaupun sering dianggap sama, ketiga teknologi tersebut memiliki pendekatan yang berbeda.

No-code ditujukan bagi pengguna yang ingin membangun aplikasi menggunakan antarmuka visual. Hampir seluruh pekerjaan dilakukan melalui menu, formulir pengaturan, dan komponen siap pakai.

Low-code tetap menggunakan pendekatan visual, tetapi menyediakan ruang untuk menambahkan kode. Cara ini cocok bagi pengguna yang ingin membuat fungsi lebih kompleks atau menghubungkan aplikasi dengan layanan yang belum didukung secara langsung.

Adapun AI app builder memungkinkan pengguna menjelaskan aplikasi yang diinginkan menggunakan bahasa sehari-hari. Sebagai contoh, pengguna dapat memberikan perintah, “Buat aplikasi pencatatan stok barang dengan halaman login, daftar produk, dan peringatan ketika stok menipis.”

AI kemudian dapat menghasilkan rancangan halaman, basis data, tombol, serta sebagian alur aplikasi. Pengguna selanjutnya memeriksa hasilnya dan memberikan perintah tambahan apabila masih ada bagian yang perlu diperbaiki.

Perkembangan tersebut menunjukkan adanya perubahan besar dalam interaksi manusia dengan komputer. Pengguna tidak lagi selalu harus menerjemahkan gagasannya ke dalam sintaks pemrograman. Sebagian proses penerjemahan itu dapat dilakukan oleh sistem AI.

Berita Terkait