Cyber . 31/08/2026, 19:02 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
Ada alasan teknis dan ekonomi lain mengapa perekaman percakapan massal bukan metode paling masuk akal untuk menargetkan iklan.
Audio menghasilkan data dalam jumlah besar.
Jika miliaran smartphone terus-menerus merekam, mengirim, menyimpan, mentranskripsi, dan menganalisis percakapan pengguna, infrastruktur yang dibutuhkan akan sangat besar.
Selain membutuhkan bandwidth dan kemampuan komputasi tinggi, aktivitas tersebut juga berpotensi meningkatkan penggunaan baterai serta lalu lintas jaringan.
Padahal perusahaan periklanan sudah memiliki sumber informasi yang jauh lebih murah dan terstruktur.
Riwayat pencarian "harga tiket Jepang", misalnya, jauh lebih mudah dianalisis dibandingkan harus merekam percakapan selama berjam-jam hanya untuk menemukan satu kalimat mengenai rencana liburan ke Jepang.
Dalam perspektif machine learning, data perilaku digital juga mempunyai keuntungan karena sudah berbentuk sinyal yang relatif terstruktur.
Klik, pencarian, lokasi, pembelian, durasi menonton, dan interaksi dapat langsung dimasukkan ke dalam sistem prediksi.
Ada faktor psikologis yang membuat pengalaman tersebut terasa semakin meyakinkan.
Manusia cenderung lebih memperhatikan sesuatu setelah hal tersebut menjadi relevan baginya.
Misalnya, setelah seseorang membicarakan mobil tertentu, ia mulai menyadari bahwa mobil tersebut ternyata sering terlihat di jalan.
Fenomena semacam ini berhubungan dengan selective attention dan frequency illusion.
Hal yang sama dapat terjadi pada iklan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media