Cyber . 31/08/2026, 19:02 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
Sistem periklanan modern tidak membutuhkan rekaman percakapan untuk mengetahui bahwa seseorang mungkin tertarik membeli sepatu, mobil, laptop, tiket pesawat, atau makanan tertentu.
Ada banyak sinyal digital yang dapat digunakan.
Misalnya, seseorang mencari informasi mengenai sepatu lari di Google. Ia kemudian membuka video mengenai olahraga di YouTube, mengunjungi marketplace, melihat akun pelari di media sosial, dan berada di lokasi yang sama dengan seseorang yang baru saja membeli perlengkapan olahraga.
Bagi sistem periklanan, rangkaian aktivitas tersebut sudah menjadi sinyal yang sangat kuat bahwa orang tersebut mungkin tertarik terhadap produk olahraga.
Ketika iklan sepatu kemudian muncul, pengguna mungkin hanya mengingat bahwa dirinya sempat membicarakan sepatu bersama temannya.
Padahal, kemungkinan terdapat puluhan sinyal digital lain yang sebelumnya telah dikumpulkan.
Smartphone dapat menghasilkan banyak jenis informasi yang berguna untuk membangun profil perilaku pengguna.
Informasi tersebut dapat mencakup riwayat pencarian, situs yang dikunjungi, aplikasi yang digunakan, interaksi dengan iklan, perkiraan lokasi, aktivitas belanja, perangkat yang digunakan, akun yang diikuti, video yang ditonton hingga durasi pengguna melihat sebuah konten.
Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk memperkirakan minat seseorang.
Teknologi periklanan juga dapat bekerja berdasarkan kelompok pengguna dengan karakteristik serupa. Jika ribuan pengguna dengan pola aktivitas tertentu ternyata tertarik membeli sebuah produk, pengguna lain dengan pola aktivitas serupa kemungkinan akan mendapatkan iklan yang sama.
Akibatnya, sistem seolah-olah mengetahui sesuatu yang bahkan belum pernah diketik pengguna.
Inilah yang sering menimbulkan kesan bahwa HP sedang "membaca pikiran".
Ada pula situasi yang lebih menarik.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media