Cyber . 20/09/2026, 15:22 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
Bayangkan seseorang menemukan sebuah disket komputer berusia 40 tahun dalam kondisi sempurna. Masalah berikutnya adalah menemukan komputer dan drive yang masih dapat membaca disket tersebut.
Fenomena serupa dapat terjadi terhadap CD, DVD, hard disk lama, atau format penyimpanan lainnya.
Karena itu, preservasi digital biasanya melibatkan migrasi data.
Data dari media lama dipindahkan ke sistem penyimpanan yang lebih baru sebelum teknologi sebelumnya benar-benar ditinggalkan.
File dari floppy disk dapat dipindahkan ke hard disk. Data dari CD dan DVD dapat dipindahkan ke SSD atau server. Data dari sistem penyimpanan lama kemudian kembali dipindahkan ketika teknologi baru muncul.
Mempertahankan data selama puluhan atau bahkan ratusan tahun pada akhirnya lebih menyerupai proses estafet dibandingkan menyimpan satu media untuk selamanya.
Kemungkinan yang lebih masuk akal bukanlah punahnya penyimpanan fisik, tetapi menghilangnya media penyimpanan dari pandangan pengguna.
Pada masa lalu, seseorang dapat melihat koleksi digitalnya secara langsung.
Rak dapat dipenuhi kaset, floppy disk, CD, DVD, atau hard disk eksternal.
Sekarang ribuan foto, lagu, video, dan dokumen cukup muncul melalui satu akun cloud.
Namun di belakang layar, semua data tersebut tetap membutuhkan perangkat keras untuk menyimpannya.
Teknologinya yang berubah.
Hard disk berkembang menjadi semakin besar. SSD menawarkan kecepatan tinggi tanpa komponen mekanis bergerak. Magnetic tape terus digunakan untuk pengarsipan, sementara berbagai teknologi penyimpanan generasi berikutnya masih dikembangkan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media