Cyber

Data Center AI Picu Penolakan Warga, Ini Mengapa

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membutuhkan infrastruktur fisik yang sangat besar. Di balik layanan chatbot, generator gambar

Data Center AI Picu Penolakan Warga, Ini Mengapa
Data Center AI, Ilustrasi: DALL·E 3

fin.co.id - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membutuhkan infrastruktur fisik yang sangat besar. Di balik layanan chatbot, generator gambar, pencarian berbasis AI, hingga pemrosesan video, terdapat data center yang menampung ribuan hingga puluhan ribu server dan chip komputasi.

Namun, ekspansi fasilitas tersebut kini memicu penolakan warga di sejumlah wilayah Amerika Serikat dan Inggris. Kekhawatiran utamanya bukan sekadar soal bangunan besar yang berdiri di sekitar permukiman, melainkan dampaknya terhadap tarif listrik, ketersediaan air, kebisingan, lingkungan, serta manfaat ekonomi yang dirasa belum sepadan bagi masyarakat setempat.

Data Center Membutuhkan Listrik Sangat Besar

Data center AI bekerja tanpa henti untuk memproses permintaan pengguna. Chip di dalam server memang tidak menimbulkan suara secara langsung, tetapi perangkat itu menghasilkan panas dalam jumlah besar ketika menjalankan komputasi.

Panas tersebut harus diatasi melalui sistem pendingin, mulai dari kipas berkapasitas besar hingga infrastruktur kelistrikan tambahan. Karena itu, warga di sekitar lokasi bisa mendengar dengung terus-menerus dari kipas server, transformator, dan gardu listrik pendukung.

Masalah yang kemudian muncul adalah kebutuhan energi. Pembangunan data center dapat mendorong perluasan jaringan listrik lokal. Di sejumlah wilayah AS, warga khawatir biaya pembangunan infrastruktur tersebut pada akhirnya dibebankan ke pelanggan rumah tangga melalui kenaikan tarif listrik.

Penolakan terhadap data center bahkan berkembang menjadi isu politik. Laporan BBC menyebut jajak pendapat Gallup pada Mei menunjukkan 71 persen responden menolak keberadaan data center di area mereka, termasuk 48 persen yang menyatakan penolakan kuat. Angka itu lebih tinggi dibanding penolakan terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir dalam survei yang sama.

Kekhawatiran Air Bersih dan Lingkungan

Selain listrik, air menjadi persoalan penting. Sebagian teknologi pendingin data center memerlukan air untuk membantu mengendalikan suhu perangkat. Dalam wilayah yang persediaan airnya sudah terbatas, kehadiran fasilitas baru ini dapat memperbesar kecemasan warga.

Senator AS Bernie Sanders menilai masyarakat merasa tidak memiliki cukup kendali atas laju perkembangan teknologi dan dampaknya terhadap lingkungan sekitar. Ia mengatakan warga mempertanyakan dampak data center terhadap tagihan listrik serta penggunaan air.

“Orang-orang melihat sekeliling dengan khawatir tentang betapa cepat teknologi ini bergerak, betapa sedikit kendali yang mereka miliki, serta bagaimana data center akan berdampak pada komunitas mereka dari sisi tarif listrik dan penggunaan air,” kata Sanders kepada BBC.

Di Inggris, isu serupa muncul di Slough, wilayah yang dikenal sebagai salah satu klaster data center terbesar di Eropa. Sebagian warga mempertanyakan apakah kota mereka benar-benar memperoleh manfaat yang sebanding dengan tekanan terhadap lingkungan dan infrastruktur. Ada pula keluhan bahwa panas dari fasilitas tersebut memperburuk kondisi saat musim panas.

Kekhawatiran lingkungan juga muncul ketika proyek data center direncanakan di lahan yang sebelumnya diproyeksikan untuk perumahan atau berada dekat kawasan hijau. Warga menilai kebutuhan pembangunan rumah, ruang usaha lokal, dan kualitas hidup komunitas tidak boleh tersisih hanya demi mengejar ambisi AI.

Lapangan Kerja Dinilai Tidak Sebanding

Pembangunan data center memang dapat menciptakan pekerjaan konstruksi dalam jumlah besar. Akan tetapi, setelah fasilitas mulai beroperasi, jumlah pekerja tetap yang dibutuhkan cenderung jauh lebih sedikit dibanding skala investasi dan kebutuhan energinya.

Berita Terkait