Cyber . 18/08/2026, 11:00 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
Dalam konteks tersebut, AI dapat menjadi semacam pengungkit kemampuan.
Manusia memberikan tujuan, konteks, pengalaman, dan penilaian. AI membantu mengolah informasi dan menyelesaikan sebagian tugas. Hasil akhirnya kemudian diperiksa kembali oleh manusia.
Model kerja seperti ini jauh berbeda dari menyerahkan seluruh pekerjaan kepada mesin.
Pandangan Daron Acemoglu, David Autor, dan Simon Johnson menunjukkan bahwa persoalan AI di dunia kerja bukan sekadar tentang apakah manusia akan digantikan mesin.
Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana AI digunakan dan siapa yang mendapatkan manfaat dari teknologi tersebut.
AI dapat digunakan untuk mengotomatisasi pekerjaan manusia. Namun, AI juga dapat membantu pekerja memperluas kemampuan, meningkatkan produktivitas, dan mengerjakan tugas yang lebih kompleks.
Karena itu, pekerja tidak harus menggunakan AI untuk setiap pekerjaan. Tetapi mempelajari AI menjadi semakin penting agar seseorang memahami kapan teknologi tersebut dapat memberikan keuntungan.
Ilmu ekonomi dan penelitian tentang teknologi juga menunjukkan bahwa dampak teknologi terhadap pekerjaan tidak ditentukan oleh teknologi semata. Cara perusahaan, pekerja, dan masyarakat memilih menggunakan teknologi ikut menentukan hasil akhirnya.
Dengan demikian, jawaban paling masuk akal untuk pertanyaan “Haruskah kamu menggunakan AI untuk bekerja?” adalah: gunakan jika AI benar-benar membuat pekerjaan menjadi lebih baik, tetapi jangan pernah menyerahkan kemampuan berpikir dan penilaian sepenuhnya kepada AI.
Daron Acemoglu, MIT Department of Economics
David Autor, MIT Department of Economics
Simon Johnson, MIT Sloan School of Management
“Applying AI to Rebuild Middle Class Jobs”, National Bureau of Economic Research
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media