Cyber . 18/08/2026, 11:00 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
Gagasannya menarik karena AI tidak selalu harus dipandang sebagai teknologi yang menggantikan manusia.
AI juga dapat membantu seseorang memperluas kemampuan.
Bayangkan seorang pekerja yang memiliki pengetahuan dasar dalam suatu bidang tetapi membutuhkan bantuan untuk menganalisis informasi dalam jumlah besar. AI dapat membantu menyusun informasi tersebut sehingga pekerja dapat lebih fokus pada keputusan dan penilaian.
Dalam situasi seperti ini, AI bukan pengganti keahlian manusia. AI justru menjadi alat yang membantu keahlian tersebut bekerja dengan jangkauan lebih luas.
Simon Johnson, Ronald A. Kurtz Professor of Entrepreneurship di MIT Sloan School of Management, juga melihat persoalan AI dari perspektif hubungan antara teknologi dan pekerja.
Johnson merupakan salah satu akademisi yang banyak membahas ketimpangan ekonomi, inovasi, teknologi, dan masa depan pekerjaan.
Salah satu gagasan penting dalam pembahasan mengenai AI adalah konsep pro-worker AI. Intinya, teknologi seharusnya dirancang dan digunakan untuk meningkatkan kemampuan pekerja, bukan semata-mata untuk menggantikan mereka.
Pendekatan tersebut mengubah cara kita melihat penggunaan AI.
Misalnya, jika seorang pekerja menggunakan AI untuk menyelesaikan pekerjaan administratif yang berulang, waktu yang tersedia dapat digunakan untuk tugas yang membutuhkan pertimbangan manusia.
AI kemudian berfungsi sebagai alat untuk mengurangi pekerjaan rutin.
Namun, apabila seluruh keputusan penting juga diserahkan kepada AI, manusia justru berisiko kehilangan kendali terhadap pekerjaan tersebut.
Jika mengikuti pandangan para profesor tersebut, jawabannya tidak bisa sekadar “harus” atau “tidak harus”.
Yang lebih tepat adalah melihat apakah AI dapat memberikan manfaat nyata pada pekerjaan yang dilakukan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media