Tips n Trik

Benarkah Pekerja yang Ogah Pakai AI Bakal Tertinggal? Ini Kata Ahli

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin cepat masuk ke dunia kerja. Teknologi ini tidak lagi hanya digunakan untuk pekerjaan teknis, tetapi

Benarkah Pekerja yang Ogah Pakai AI Bakal Tertinggal? Ini Kata Ahli
Pekerja Gunakan AI, Image: DALL·E 3

fin.co.id - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin cepat masuk ke dunia kerja. Teknologi ini tidak lagi hanya digunakan untuk pekerjaan teknis, tetapi juga mulai membantu menulis dokumen, menganalisis data, membuat presentasi, mencari informasi, hingga menangani berbagai tugas administratif.

Perubahan tersebut memunculkan pertanyaan penting: apakah pekerja yang memilih tidak menggunakan AI akan tertinggal?

Jawabannya tidak sesederhana bahwa setiap pekerja wajib menggunakan AI. Namun, para ahli melihat bahwa kemampuan memahami dan memanfaatkan AI semakin berpotensi menjadi salah satu keterampilan penting di pasar kerja.

AI Tidak Selalu Menggantikan Pekerja

Kekhawatiran terbesar terhadap AI adalah kemungkinan teknologi tersebut mengambil alih pekerjaan manusia.

Namun, perkembangan AI justru menunjukkan pola yang lebih kompleks. Dalam banyak pekerjaan, AI digunakan untuk mengambil alih sebagian tugas, bukan seluruh pekerjaan.

Seorang pekerja dapat menggunakan AI untuk membuat draf awal, merangkum dokumen, mencari pola dalam data, atau mengotomatisasi pekerjaan berulang. Setelah itu, manusia tetap dibutuhkan untuk memeriksa hasil, mengambil keputusan, berkomunikasi, serta memahami konteks.

Dengan demikian, perubahan yang terjadi bukan hanya persaingan antara manusia dan mesin. Persaingan juga muncul antara pekerja yang mampu memanfaatkan teknologi dengan pekerja yang tidak menggunakannya.

Pekerja yang Menggunakan AI Bisa Menyelesaikan Lebih Banyak Pekerjaan

Salah satu alasan pekerja yang menolak AI berpotensi tertinggal adalah produktivitas.

Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam dapat dibantu AI dalam waktu yang jauh lebih singkat. Misalnya, seorang pekerja administrasi dapat menggunakan AI untuk membuat ringkasan dokumen. Seorang pemasar dapat menggunakannya untuk menghasilkan beberapa alternatif konsep kampanye.

Namun, kecepatan bukan berarti hasil AI selalu benar.

AI masih dapat menghasilkan informasi keliru, kesimpulan yang tidak tepat, atau jawaban yang terlihat meyakinkan tetapi sebenarnya salah. Karena itu, kemampuan manusia untuk memeriksa dan mengoreksi hasil AI tetap sangat penting.

World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 menempatkan AI dan big data sebagai salah satu kelompok keterampilan dengan pertumbuhan permintaan tercepat. Laporan tersebut juga menekankan pentingnya kemampuan manusia seperti berpikir analitis, kreativitas, ketahanan, dan fleksibilitas.

Berita Terkait