Benarkah Pekerja yang Ogah Pakai AI Bakal Tertinggal? Ini Kata Ahli
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin cepat masuk ke dunia kerja. Teknologi ini tidak lagi hanya digunakan untuk pekerjaan teknis, tetapi
International Labour Organization dalam laporan mengenai generative AI dan pekerjaan menyebut bahwa dampak terbesar generative AI kemungkinan bukan penghapusan seluruh pekerjaan, melainkan transformasi terhadap berbagai tugas di dalam pekerjaan tersebut.
Artinya, pekerja mungkin tidak kehilangan profesinya, tetapi cara mereka menjalankan profesi tersebut dapat berubah.
Pekerja Tetap Memiliki Keunggulan yang Sulit Digantikan AI
Meski AI berkembang pesat, manusia masih memiliki sejumlah kemampuan yang sangat penting.
Komunikasi interpersonal, empati, kepemimpinan, penilaian berdasarkan konteks, tanggung jawab moral, kreativitas tertentu, dan kemampuan membangun hubungan merupakan contoh kemampuan yang tidak mudah disederhanakan menjadi tugas otomatis.
Baca Juga
Dalam pekerjaan tertentu, kepercayaan juga menjadi faktor utama.
Seorang dokter, pengacara, guru, manajer, konsultan, atau pemimpin perusahaan tidak hanya memberikan informasi. Mereka juga harus memahami kondisi manusia, mempertimbangkan konsekuensi keputusan, dan bertanggung jawab atas hasilnya.
Karena itu, strategi terbaik bagi pekerja bukan sekadar mengganti kemampuan manusia dengan AI.
Yang lebih masuk akal adalah menggabungkan kemampuan manusia dengan teknologi.
AI Bisa Menjadi Alat, Bukan Pengganti Keahlian
Baca Juga
Ada risiko lain ketika pekerja terlalu bergantung pada AI.
Jika seseorang menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI, kemampuan profesionalnya justru dapat melemah. Kesalahan AI juga dapat lolos karena pekerja tidak lagi memiliki kemampuan untuk memeriksa hasilnya secara mandiri.
Karena itu, pekerja yang paling diuntungkan dari AI kemungkinan bukan mereka yang sekadar paling sering menggunakannya.
Yang lebih penting adalah memahami kapan AI berguna, kapan hasilnya harus diperiksa, dan kapan pekerjaan harus dilakukan sepenuhnya oleh manusia.
Dalam konteks ini, AI sebaiknya dipandang sebagai alat produktivitas.