Cyber . 01/11/2026, 12:00 WIB

Hati-hati Menggunakan WiFi Publik, Data Apa Saja yang Berisiko Terbaca?

Penulis : Makruf  |  Editor : Makruf


fin.co.id - WiFi publik sering menjadi pilihan ketika seseorang membutuhkan akses internet gratis di kafe, bandara, hotel, pusat perbelanjaan, atau tempat umum lainnya. Namun, menggunakan jaringan tersebut tidak selalu aman, terutama jika jaringan tidak memiliki perlindungan yang memadai atau sengaja dibuat oleh pihak yang ingin mencuri informasi pengguna.

Data yang berisiko bukan hanya kata sandi akun. Aktivitas penjelajahan internet, informasi perangkat, hingga data pribadi yang dikirim melalui koneksi tidak terenkripsi juga berpotensi diketahui pihak lain. Karena itu, penting untuk memahami informasi apa saja yang dapat terekspos ketika terhubung ke WiFi publik.

Mengapa WiFi Publik Bisa Menjadi Risiko Keamanan?

WiFi publik biasanya dapat digunakan oleh banyak orang tanpa proses verifikasi yang rumit. Kemudahan ini membuat pengguna tidak selalu mengetahui siapa yang mengelola jaringan, bagaimana sistem keamanannya, dan siapa saja yang terhubung di dalamnya.

Salah satu risiko yang perlu diperhatikan adalah penyadapan lalu lintas jaringan atau network sniffing. Dalam kondisi tertentu, pelaku dapat memantau data yang melewati jaringan, terutama apabila informasi tersebut dikirim tanpa enkripsi.

Risiko lainnya adalah serangan Man-in-the-Middle (MitM). Serangan ini terjadi ketika pihak ketiga menempatkan dirinya di antara perangkat pengguna dan layanan internet yang sedang diakses. Jika komunikasi tidak terlindungi dengan baik, pelaku dapat mencoba membaca atau memanipulasi informasi yang dikirimkan.

Ada pula jaringan WiFi palsu yang sengaja dibuat menyerupai jaringan resmi. Misalnya, seseorang membuat jaringan bernama hampir sama dengan WiFi sebuah kafe atau bandara. Pengguna yang keliru memilih jaringan tersebut bisa saja menghubungkan perangkatnya langsung ke jaringan yang dikendalikan pelaku.

Data yang Berisiko Terbaca Saat Menggunakan WiFi Publik

Tidak semua informasi otomatis dapat dilihat oleh orang lain hanya karena perangkat terhubung ke jaringan WiFi yang sama. Tingkat risiko bergantung pada enkripsi koneksi, konfigurasi perangkat, keamanan aplikasi, dan kemampuan pihak yang mencoba melakukan penyadapan.

Berikut beberapa jenis informasi yang perlu diperhatikan.

1. Aktivitas Penjelajahan Internet

Aktivitas saat membuka situs web dapat meninggalkan informasi yang bisa diamati melalui jaringan. Pada koneksi yang tidak terenkripsi, pihak lain berpotensi mengetahui halaman yang dikunjungi, permintaan yang dikirimkan, atau informasi lain yang melewati jaringan.

Pada situs yang menggunakan HTTPS, isi komunikasi seperti kata sandi dan data formulir umumnya dilindungi enkripsi. Namun, informasi tertentu seperti alamat IP tujuan dan sebagian metadata koneksi masih dapat terlihat oleh pengelola jaringan atau pihak yang memantau lalu lintas internet.

2. Kata Sandi dan Informasi Login

Kata sandi merupakan salah satu informasi paling penting yang harus dilindungi ketika menggunakan internet publik. Apabila pengguna memasukkan kredensial melalui halaman atau layanan yang tidak menggunakan enkripsi, informasi tersebut berisiko disadap.

Risiko juga muncul ketika pengguna diarahkan ke halaman login palsu. Halaman tersebut bisa dibuat menyerupai tampilan layanan populer, padahal sebenarnya bertujuan mengumpulkan alamat email, nama pengguna, dan kata sandi.

Karena itu, jangan langsung memasukkan informasi akun hanya karena sebuah halaman terlihat meyakinkan. Periksa alamat situs dan pastikan koneksi menggunakan HTTPS.

3. Informasi Pribadi yang Dikirim Melalui Internet

Nama lengkap, alamat email, nomor telepon, alamat rumah, dan informasi identitas lainnya dapat berisiko apabila dikirim melalui koneksi atau layanan yang tidak aman.

Misalnya, pengguna mengisi formulir pendaftaran melalui situs yang tidak memiliki perlindungan enkripsi. Informasi yang dimasukkan berpotensi terbaca oleh pihak yang berhasil memantau komunikasi tersebut.

Sebaliknya, apabila formulir menggunakan layanan HTTPS dengan konfigurasi keamanan yang benar, isi data yang dikirimkan akan dilindungi selama perjalanan antara perangkat dan server.

4. Informasi Transaksi dan Data Perbankan

Aktivitas perbankan membutuhkan perlindungan yang lebih ketat karena melibatkan informasi keuangan. Data seperti nomor rekening, informasi kartu pembayaran, serta detail transaksi harus dijaga agar tidak jatuh ke tangan pihak yang tidak berwenang.

Aplikasi perbankan resmi umumnya menggunakan berbagai lapisan keamanan, termasuk enkripsi komunikasi. Namun, hal tersebut tidak berarti pengguna bebas dari seluruh risiko ketika memakai WiFi publik.

Serangan melalui situs palsu, aplikasi berbahaya, atau manipulasi koneksi tetap dapat menjadi ancaman. Untuk mengakses rekening dan melakukan transaksi penting, jaringan seluler pribadi lebih layak diprioritaskan.

5. Informasi Perangkat dan Identitas Jaringan

Ketika terhubung ke WiFi, perangkat dapat mengirimkan informasi teknis tertentu untuk berkomunikasi dengan jaringan. Informasi tersebut dapat mencakup alamat IP lokal, alamat MAC yang digunakan dalam koneksi, serta karakteristik perangkat dan konfigurasi jaringan.

Informasi teknis ini tidak selalu cukup untuk membobol perangkat. Namun, dalam kondisi tertentu, data tersebut dapat membantu pihak lain mengenali perangkat, memetakan jaringan, atau melakukan pengintaian terhadap perangkat yang terhubung.

Sebagian perangkat modern juga menggunakan fitur pengacakan alamat MAC untuk mengurangi pelacakan ketika berpindah jaringan.

6. Aktivitas Aplikasi yang Tidak Menggunakan Enkripsi

Tidak semua aplikasi memiliki tingkat perlindungan komunikasi yang sama. Aplikasi yang menggunakan protokol tidak terenkripsi dapat membuat informasi yang dikirimkan lebih mudah diamati melalui jaringan.

Risiko ini terutama berkaitan dengan aplikasi lama, layanan yang tidak diperbarui, atau koneksi yang menggunakan konfigurasi keamanan buruk.

Pengguna sebaiknya tidak menganggap semua aplikasi otomatis aman hanya karena dapat dibuka melalui jaringan WiFi publik.

Apakah Menggunakan HTTPS Sudah Cukup Aman?

HTTPS merupakan salah satu perlindungan utama ketika mengakses internet. Teknologi ini menggunakan enkripsi untuk melindungi komunikasi antara browser dan server sehingga pihak lain yang memantau jaringan umumnya tidak dapat membaca isi pertukaran data secara langsung.

Sebagai contoh, ketika seseorang masuk ke akun email melalui situs HTTPS, kata sandi dan isi komunikasi akan dilindungi selama proses transmisi apabila sertifikat dan konfigurasi keamanannya valid.

Namun, HTTPS bukan perlindungan menyeluruh terhadap semua jenis serangan. Pengguna masih bisa tertipu oleh situs phishing yang juga menggunakan HTTPS. Enkripsi juga tidak dapat melindungi perangkat yang sudah terinfeksi malware atau mencegah pengguna memberikan kata sandi kepada halaman palsu.

Artinya, ikon gembok pada browser merupakan salah satu indikator keamanan koneksi, bukan jaminan bahwa sebuah situs pasti dapat dipercaya.

Cara Melindungi Data Saat Menggunakan WiFi Publik

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko pencurian informasi ketika menggunakan internet di tempat umum.

  1. Pastikan nama jaringan WiFi benar. Tanyakan kepada petugas atau pengelola tempat mengenai nama jaringan resmi sebelum menghubungkan perangkat.

  2. Gunakan situs dengan HTTPS. Periksa alamat situs sebelum memasukkan kata sandi, informasi pribadi, atau data pembayaran.

  3. Hindari transaksi penting. Sebisa mungkin jangan melakukan aktivitas perbankan atau memasukkan informasi sensitif melalui jaringan publik yang tidak dikenal.

  4. Aktifkan VPN tepercaya. VPN dapat mengenkripsi lalu lintas internet antara perangkat dan server VPN sehingga membantu mengurangi risiko pengamatan oleh pihak lain pada jaringan lokal. Namun, VPN tidak melindungi dari phishing, malware, atau layanan VPN yang tidak dapat dipercaya.

  5. Matikan fitur koneksi otomatis. Pengaturan ini mencegah perangkat langsung tersambung ke jaringan WiFi yang pernah digunakan tanpa pemeriksaan ulang.

  6. Nonaktifkan fitur berbagi file. Matikan file sharing dan fitur penemuan perangkat ketika tidak diperlukan, terutama saat menggunakan jaringan publik.

  7. Perbarui sistem operasi dan aplikasi. Pembaruan keamanan membantu memperbaiki celah yang dapat dimanfaatkan untuk menyerang perangkat.

  8. Lupakan jaringan setelah digunakan. Hapus jaringan publik dari daftar WiFi tersimpan apabila tidak lagi diperlukan agar perangkat tidak otomatis terhubung kembali.

Penutup

Menggunakan WiFi publik tidak selalu berbahaya, tetapi pengguna perlu memahami bahwa jaringan yang digunakan bersama orang lain memiliki risiko keamanan tersendiri. Informasi seperti aktivitas penjelajahan, data login, informasi pribadi, dan komunikasi aplikasi dapat terekspos apabila koneksi atau layanan yang digunakan tidak memiliki perlindungan memadai.

Teknologi HTTPS, VPN, dan sistem keamanan perangkat modern memang dapat mengurangi risiko penyadapan. Namun, perlindungan tersebut tetap perlu disertai kebiasaan digital yang tepat, seperti memeriksa jaringan, menghindari halaman login mencurigakan, dan tidak sembarangan memasukkan informasi sensitif.

Pada akhirnya, keamanan data tidak hanya bergantung pada teknologi yang digunakan, tetapi juga pada keputusan pengguna ketika mengakses internet.

Referensi

  1. Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) – Securing Wireless Networks.

  2. Federal Trade Commission (FTC) – How to Use Public Wi-Fi Networks Safely.

  3. Electronic Frontier Foundation (EFF) – HTTPS Everywhere: Encrypting the Web.

  4. National Institute of Standards and Technology (NIST) – Guidelines for Securing Wireless Local Area Networks (WLANs).

Perjelas Batas Risiko HTTPSTambahkan Langkah Darurat Setelah Terhubung


           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com