Tips n Trik . 20/09/2026, 23:08 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
Angkanya jauh lebih tinggi di Asia, yakni 76 persen dalam data regional yang sama.
Perkembangan tersebut memiliki alasan ekonomi yang cukup sederhana.
Pedagang tidak selalu membutuhkan mesin pembayaran khusus. Dalam implementasi tertentu, mereka hanya perlu menampilkan QR Code yang dapat dipindai konsumen.
GSMA dalam laporan 2026 mengenai pengembangan pembayaran merchant menyebut salah satu keuntungan QR Code adalah biaya infrastruktur yang rendah. Merchant dapat mencetak dan menampilkan kode tanpa harus menyediakan perangkat keras pembayaran yang mahal.
Model tersebut sangat menarik terutama bagi usaha kecil.
Pola QR Code terlihat sederhana, tetapi di baliknya terdapat mekanisme matematika yang membuat teknologi ini cukup tangguh.
Salah satunya adalah error correction.
Menurut dokumentasi DENSO WAVE, QR Code menggunakan Reed-Solomon Code untuk membantu memulihkan data apabila sebagian kode kotor atau rusak.
Terdapat beberapa tingkat koreksi kesalahan, yaitu L, M, Q, dan H.
Pada tingkat tertinggi, secara umum sekitar 30 persen codeword dapat dipulihkan. Kemampuan aktual tetap bergantung pada kondisi kerusakan dan susunan data.
Itulah salah satu alasan QR Code dalam kondisi tertentu masih dapat terbaca meskipun sebagian permukaannya tergores, terkena noda, atau tidak tercetak sempurna.
Konsep Reed-Solomon sendiri bukan hanya digunakan pada QR Code. Teknik koreksi kesalahan ini juga digunakan dalam berbagai sistem penyimpanan dan komunikasi digital.
Dengan kata lain, ketahanan QR Code bukan sekadar kebetulan desain visual, melainkan didukung mekanisme koreksi data.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media