Tips n Trik . 10/09/2026, 15:29 WIB

Promosi Karyawan Kini Mulai Diukur dari Kemampuan Memakai AI

Penulis : Makruf  |  Editor : Makruf

fin.co.id - Kemampuan memakai kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai menjadi faktor baru dalam penilaian kinerja di banyak perusahaan. Jika sebelumnya promosi jabatan lebih banyak ditentukan oleh pengalaman, hasil kerja, kepemimpinan, dan kemampuan bekerja sama, kini keahlian memanfaatkan AI juga ikut diperhatikan.

Perubahan itu muncul seiring perusahaan ingin mendapatkan hasil nyata dari investasi besar mereka pada teknologi AI. Karyawan yang dapat menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, membuat analisis lebih efisien, menyusun draf, atau mengotomatisasi tugas berulang dengan bantuan AI dinilai memiliki nilai tambah. Namun, tren ini juga memunculkan pertanyaan penting: apakah adil apabila kemampuan memakai AI ikut menentukan bonus, promosi, bahkan keberlangsungan pekerjaan seseorang?

AI Mulai Menjadi Ukuran Baru dalam Penilaian Kinerja

Laporan BBC menyebut sejumlah perusahaan besar mulai mendorong pemakaian AI secara lebih agresif. Ada perusahaan yang memasukkan pelatihan atau pemahaman AI ke dalam ekspektasi kerja, sementara sebagian lainnya membuat papan peringkat internal untuk melihat tingkat pemakaian AI oleh karyawan.

Di satu sisi, kebijakan tersebut dapat dipahami. AI generatif mampu membantu menyusun ringkasan, mengolah data, membuat konsep presentasi, menulis kode, hingga mengerjakan tugas administratif. Dalam pekerjaan yang membutuhkan banyak dokumen atau analisis awal, penggunaan AI yang tepat berpotensi memangkas waktu kerja tanpa harus mengurangi kualitas.

Seorang pekerja pemasaran bernama Duncan Trevithick, yang dikutip BBC, menjelaskan bahwa ia bisa memperoleh bonus jika berhasil menggunakan AI untuk menuntaskan lebih banyak tugas dengan lebih cepat. Akan tetapi, ia melihat persoalan lain. Ketika AI mampu memangkas pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan dua hari dalam seminggu, hasilnya belum tentu berupa tambahan waktu istirahat atau kenaikan penghasilan yang setara.

Produktivitas yang meningkat justru berisiko dianggap sebagai standar kerja baru. Karyawan dapat diminta menghasilkan lebih banyak pekerjaan dalam waktu yang sama, tanpa perubahan beban kerja yang benar-benar adil.

Kekhawatiran Karyawan terhadap Pekerjaan yang Makin Mudah Diautomatisasi

AI dapat menjadi alat bantu yang memperkuat kemampuan pekerja, tetapi juga dapat memunculkan kecemasan. Saat seorang karyawan membuktikan bahwa sebagian besar tugasnya bisa dikerjakan lebih cepat dengan bantuan AI, perusahaan mungkin akan melihat peluang untuk mengurangi kebutuhan tenaga kerja manusia pada masa depan.

Kekhawatiran ini bukan semata-mata soal penolakan terhadap teknologi. Banyak pekerja menyadari bahwa kemampuan AI akan semakin dibutuhkan. Namun, mereka juga ingin kepastian mengenai imbalan yang layak, batas penggunaan AI, perlindungan data, serta arah perusahaan terkait pengurangan tenaga kerja.

BBC juga mengutip seorang eksekutif senior di perusahaan konsultansi yang menilai kemahiran AI mulai menciptakan tenaga kerja “dua tingkat”. Karyawan dengan pengalaman panjang tetapi kurang terbiasa memakai AI dapat tertinggal dibanding pekerja yang lebih muda dan cepat menguasai alat baru tersebut.

Situasi ini perlu dilihat dengan hati-hati. Pengalaman kerja tetap memiliki nilai penting karena penggunaan AI tidak otomatis menghasilkan keputusan yang benar. AI dapat membuat jawaban yang terdengar meyakinkan tetapi keliru, melewatkan konteks, atau menghasilkan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, kemampuan memeriksa hasil AI, memahami konteks pekerjaan, dan mengambil keputusan tetap harus menjadi bagian utama dari penilaian.

Risiko Jika Penggunaan AI Hanya Dikejar sebagai Angka

Mendorong adopsi AI tidak selalu berarti perusahaan berhasil meningkatkan kualitas kerja. Peneliti AI terapan dan pengajar Henley Business School, Kamila Miller, mengingatkan bahwa menjadikan penggunaan AI sebagai indikator kinerja utama atau KPI dapat memicu perilaku yang hanya mengejar angka.

Karyawan bisa saja memasukkan pekerjaan ke chatbot hanya agar terlihat aktif memakai AI, meski tugas itu sebenarnya tidak memerlukan bantuan teknologi tersebut. Akibatnya, perusahaan memang dapat mengukur tingkat adopsi AI, tetapi belum tentu mengukur peningkatan keterampilan, kualitas keputusan, atau hasil kerja yang lebih baik.

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com