Gadget . 31/08/2026, 14:05 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
Salah satu keuntungan terbesar terdapat pada desain.
Tanpa tombol yang menonjol, sisi smartphone dapat dibuat lebih bersih dan menyatu dengan bodi perangkat. Konsep tersebut semakin relevan ketika produsen mengejar smartphone dengan desain minimalis dan permukaan layar yang semakin luas.
Ada pula potensi keuntungan dari sisi ketahanan.
Tombol mekanis memiliki bagian yang bergerak. Setelah digunakan ribuan hingga jutaan kali, komponen tersebut dapat mengalami keausan.
Sensor solid-state tidak membutuhkan mekanisme tombol yang bergerak dengan cara yang sama. Secara teori, berkurangnya komponen bergerak dapat menghilangkan beberapa titik kegagalan mekanis.
Desain seperti ini juga berpotensi membantu penyegelan perangkat karena produsen tidak perlu menyediakan konstruksi tombol mekanis yang bergerak pada bingkai.
Meski demikian, bukan berarti smartphone otomatis menjadi tahan air hanya karena tombol fisiknya dihilangkan. Ketahanan terhadap air tetap bergantung pada keseluruhan desain perangkat, termasuk speaker, mikrofon, port USB, sambungan bodi, serta sistem perekat dan penyegelnya.
Keuntungan menarik lainnya adalah fleksibilitas.
Tombol mekanis mempunyai fungsi yang relatif tetap. Sebaliknya, area sensitif tekanan dapat diprogram melalui software.
Misalnya, bagian samping smartphone dapat berfungsi sebagai tombol volume ketika berada di Home Screen. Ketika kamera dibuka, area yang sama dapat berubah menjadi shutter kamera.
Produsen bahkan dapat membedakan beberapa jenis input seperti sentuhan, tekanan ringan, tekanan kuat, atau tekan dan tahan.
Teknologi tersebut sudah dapat ditemukan dalam bentuk terbatas pada smartphone gaming. Beberapa perangkat ASUS ROG Phone dan RedMagic menggunakan sensor sensitif tekanan sebagai shoulder trigger untuk bermain game.
Artinya, teknologi dasar untuk membuat "tombol tanpa tombol" sebenarnya sudah tersedia.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media