Cyber . 26/08/2026, 13:03 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
Produsen harus menempatkan ratusan juta piksel pada sensor yang ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan sensor kamera mirrorless atau DSLR.
Akibatnya, setiap piksel individual dapat mempunyai ukuran yang sangat kecil.
Sebagai contoh, sejumlah sensor kamera smartphone 200 MP menggunakan piksel individual berukuran sekitar 0,6 mikrometer. Ukuran tersebut memungkinkan ratusan juta piksel ditempatkan dalam sensor yang relatif kecil.
Namun, piksel kecil mempunyai keterbatasan ketika kondisi pencahayaan menurun.
Setiap piksel pada sensor bertugas menerima cahaya. Semakin banyak cahaya yang berhasil dikumpulkan, semakin kuat sinyal gambar yang dapat dihasilkan.
Piksel berukuran kecil mempunyai area penangkap cahaya yang lebih kecil dibandingkan piksel berukuran besar.
Ketika mengambil foto di siang hari, hal ini biasanya bukan masalah besar karena tersedia banyak cahaya. Kamera 200 MP bahkan dapat menghasilkan detail yang sangat tinggi.
Situasinya berbeda ketika pengguna memotret pada malam hari atau di ruangan dengan pencahayaan redup.
Jumlah cahaya yang diterima setiap piksel menjadi lebih sedikit sehingga sinyal gambar dapat bercampur dengan noise elektronik. Smartphone kemudian harus menggunakan berbagai teknik pemrosesan untuk mempertahankan kualitas foto.
Inilah salah satu alasan kamera beresolusi sangat tinggi tidak selalu digunakan pada resolusi maksimal.
Banyak sensor kamera beresolusi tinggi menggunakan teknologi pixel binning.
Teknologi ini pada dasarnya menggabungkan informasi dari beberapa piksel kecil menjadi satu piksel virtual yang lebih besar.
Sensor 200 MP tertentu, misalnya, dapat menggabungkan empat piksel menjadi satu sehingga menghasilkan foto sekitar 50 MP. Dalam kondisi lain, 16 piksel dapat digabungkan sehingga hasil akhirnya berada di kisaran 12,5 MP.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media