Tips n Trik

Charger USB-C Bisa Mengisi Laptop tetapi Sangat Lambat, Apa Penyebabnya?

USB-C semakin umum digunakan sebagai konektor pengisian daya laptop. Satu charger bahkan dapat digunakan untuk mengisi berbagai perangkat, mulai dari

Charger USB-C Bisa Mengisi Laptop tetapi Sangat Lambat, Apa Penyebabnya?
ilustrasi Charger USB-C Laptop, Ilustrasi: DALL·E 3

fin.co.id - USB-C semakin umum digunakan sebagai konektor pengisian daya laptop. Satu charger bahkan dapat digunakan untuk mengisi berbagai perangkat, mulai dari smartphone, tablet, hingga laptop, selama spesifikasinya sesuai.

Namun, konektor yang sama tidak berarti kemampuan pengisian dayanya juga sama. Ada kondisi ketika charger USB-C berhasil terdeteksi dan baterai laptop menunjukkan status sedang diisi, tetapi persentasenya bertambah sangat lambat. Pada situasi tertentu, persentase baterai bahkan dapat tetap turun meskipun charger sudah terpasang.

Kondisi tersebut tidak selalu berarti baterai atau charger rusak. Salah satu penyebab paling umum justru adanya ketidaksesuaian daya antara charger, kabel, dan kebutuhan laptop.

Konektor USB-C Tidak Menentukan Besarnya Daya

USB-C pada dasarnya merujuk pada bentuk konektor. Dua charger yang sama-sama menggunakan USB-C dapat memiliki kemampuan daya yang sangat berbeda.

Sebagai contoh, charger smartphone mungkin hanya mampu menghasilkan daya 20 watt atau 30 watt. Sementara itu, sebuah laptop dapat dirancang untuk menggunakan adaptor 45 watt, 65 watt, 90 watt, bahkan lebih tinggi.

Jika laptop membutuhkan 65 watt tetapi charger hanya mampu memasok 30 watt, laptop tertentu masih dapat menerima daya. Hanya saja, proses pengisian baterainya menjadi jauh lebih lambat.

Microsoft menjelaskan bahwa salah satu penyebab munculnya kondisi pengisian daya lambat pada PC adalah charger yang tidak cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan daya perangkat.

Artinya, status "charging" tidak otomatis menunjukkan bahwa laptop memperoleh daya sesuai kemampuan pengisian maksimalnya.

USB Power Delivery Berperan Penting

Pengisian daya laptop melalui USB-C umumnya menggunakan teknologi USB Power Delivery atau USB PD.

Teknologi tersebut memungkinkan charger dan perangkat berkomunikasi untuk menentukan tegangan dan arus yang dapat digunakan. Laptop kemudian mengambil profil daya yang sesuai berdasarkan kemampuan charger, kabel, dan sistem pengisian laptop.

USB Implementers Forum atau USB-IF menjelaskan bahwa USB Power Delivery dikembangkan agar koneksi USB dapat memberikan daya yang jauh lebih fleksibel dibandingkan USB konvensional.

USB PD generasi modern bahkan mendukung daya hingga 240 watt melalui teknologi Extended Power Range atau EPR pada perangkat dan kabel yang kompatibel.

Namun, kemampuan teoritis USB-C tersebut tidak berarti setiap charger USB-C mampu menghasilkan daya sebesar itu.

Berita Terkait