Cyber . 21/08/2026, 08:55 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
Pengguna yang terbiasa membuka HP menggunakan sidik jari atau pemindai wajah mungkin lupa dengan PIN karena jarang memasukkannya.
Padahal, sistem keamanan perangkat biasanya tetap menjadikan PIN atau kode sandi sebagai metode autentikasi utama. Biometrik hanya menjadi metode yang lebih praktis setelah perangkat berhasil melakukan autentikasi utama.
Karena itu, setelah kondisi tertentu, sistem dapat menonaktifkan sementara pemindai sidik jari atau pengenalan wajah dan meminta PIN.
Contohnya adalah setelah restart. Kondisi serupa juga dapat terjadi setelah perangkat terlalu lama terkunci atau ketika sistem menganggap autentikasi tambahan diperlukan.
Beberapa HP dapat meminta PIN setelah pengguna gagal menggunakan sidik jari atau pengenalan wajah berkali kali.
Misalnya, jari pengguna basah, sensor tidak dapat membaca sidik jari dengan baik, atau posisi wajah tidak dikenali kamera. Setelah sejumlah percobaan gagal, sistem dapat meminta PIN sebagai bentuk verifikasi tambahan.
Ini merupakan fitur keamanan, bukan indikasi bahwa PIN telah diganti.
Tujuannya adalah mencegah orang lain terus menerus mencoba membuka perangkat menggunakan metode biometrik tanpa mengetahui kode utama.
Perangkat juga dapat meminta PIN ketika sudah cukup lama tidak dibuka menggunakan kode utama.
Hal ini berkaitan dengan desain keamanan biometrik. Sidik jari dan pengenalan wajah dibuat untuk memberikan kenyamanan, tetapi sistem tetap membutuhkan kredensial utama dalam kondisi tertentu.
Dengan demikian, pengguna mungkin merasa tidak pernah mengganti PIN karena memang PIN tidak berubah. Hanya saja, sistem sedang meminta metode autentikasi utama yang sebelumnya jarang digunakan.
Kemunculan layar PIN secara tiba tiba sering membuat pengguna berpikir ada seseorang yang mencoba masuk ke perangkat.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media