Tips n Trik . 16/08/2026, 14:53 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
Guru dapat menentukan kapan AI boleh digunakan, kapan siswa harus mengerjakan sesuatu tanpa bantuan AI, dan bagaimana penggunaan teknologi tersebut harus dicantumkan.
Misalnya, sebuah sekolah dapat menetapkan bahwa AI boleh digunakan untuk mencari ide awal, tetapi siswa harus menyusun sendiri argumen dan kesimpulan. Guru juga dapat meminta siswa mencantumkan bagian tertentu yang dibantu AI.
Aturan semacam ini membuat penggunaan teknologi menjadi lebih transparan.
UNESCO dalam publikasinya mengenai teknologi AI generatif dalam pendidikan menekankan pentingnya pendekatan yang berpusat pada manusia, termasuk perlindungan data, kesiapan pendidik, serta penggunaan AI yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
Etika penggunaan AI tidak hanya berkaitan dengan menyontek.
Privasi juga menjadi persoalan penting. Siswa sebaiknya tidak sembarangan memasukkan data pribadi ke dalam layanan AI.
Informasi seperti alamat rumah, nomor telepon, kata sandi, data kesehatan, dokumen pribadi, atau informasi sensitif mengenai teman dan keluarga tidak seharusnya dimasukkan begitu saja.
Sekolah juga perlu memberikan edukasi mengenai jenis data yang aman dibagikan dan jenis informasi yang harus dilindungi.
Literasi digital dengan demikian menjadi bagian penting dari literasi AI.
Jika digunakan dengan tepat, AI justru dapat membuat proses belajar menjadi lebih interaktif.
Seorang siswa yang kesulitan memahami fotosintesis dapat meminta AI menjelaskan konsep tersebut dengan contoh sederhana. Setelah itu, siswa dapat meminta beberapa pertanyaan latihan dan mencoba menjawabnya sendiri.
AI juga dapat digunakan sebagai lawan diskusi. Siswa dapat membuat sebuah argumen, kemudian meminta AI menunjukkan kelemahan dalam argumen tersebut.
Dalam model seperti ini, siswa tetap menjadi pusat pembelajaran. AI hanya menyediakan bantuan tambahan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media