Tips n Trik . 13/08/2026, 12:00 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
Ada kesalahpahaman bahwa risiko privasi hanya muncul jika AI memiliki niat buruk.
Padahal, sistem digital apa pun yang menerima data tetap memiliki risiko keamanan.
Data dapat disimpan, diproses melalui server, berpindah melalui jaringan, atau terhubung dengan sistem lain. Karena itu, keamanan akun dan infrastruktur penyedia layanan juga menjadi bagian penting dari perlindungan privasi.
FTC memberikan contoh pada perangkat kamera internet. Jika sistem tidak diamankan dengan baik, rekaman yang seharusnya bersifat pribadi dapat diakses pihak yang tidak berwenang. Dalam kasus Ring, FTC menyatakan kelemahan privasi dan keamanan memungkinkan akses yang tidak semestinya terhadap rekaman pengguna.
Prinsipnya dapat diterapkan pada teknologi berbasis AI.
Semakin sensitif data yang diberikan, semakin penting memahami bagaimana data tersebut diamankan.
Meski demikian, bukan berarti fitur berbagi layar dengan AI harus dihindari sepenuhnya.
Fitur tersebut dapat sangat berguna.
Misalnya, AI bisa membantu pengguna menemukan tombol tertentu dalam sebuah aplikasi, menjelaskan error pada software, membaca grafik, membantu memahami dokumen, atau memberikan panduan ketika pengguna mengalami masalah teknis.
Yang perlu diubah adalah cara pengguna memberikan akses.
Jangan berpikir, "AI melihat layar saya."
Lebih tepat jika berpikir, "Saya sedang mengirimkan informasi yang tampil di layar kepada sebuah layanan."
Perubahan cara berpikir tersebut membuat pengguna lebih berhati-hati sebelum menekan tombol share screen.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media