Cyber . 11/08/2026, 16:57 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
Satu aplikasi mungkin tidak mengonsumsi banyak energi. Namun, jika puluhan aplikasi melakukan aktivitas serupa sepanjang hari, akumulasinya bisa terasa.
Sistem operasi modern memang memiliki mekanisme untuk membatasi aktivitas tersebut. Namun, beberapa aplikasi tetap membutuhkan akses tertentu agar fitur seperti notifikasi real-time dan sinkronisasi dapat berjalan.
Kamera smartphone sekarang bukan sekadar sensor yang mengambil gambar.
Ketika pengguna memotret, smartphone dapat menjalankan berbagai proses komputasi seperti HDR, pengurangan noise, stabilisasi gambar, pemrosesan warna, penggabungan beberapa frame, hingga pemrosesan berbasis AI.
Perekaman video resolusi tinggi juga membutuhkan kerja prosesor, sensor kamera, penyimpanan, dan layar secara bersamaan.
Karena itu, menggunakan kamera dalam waktu lama, terutama untuk merekam video beresolusi tinggi, dapat menguras baterai jauh lebih cepat dibandingkan aktivitas ringan seperti membaca pesan.
Gaming merupakan salah satu aktivitas yang paling mudah memperlihatkan perbedaan antara kapasitas baterai dan konsumsi daya.
Game dengan grafis berat membuat CPU dan GPU bekerja intensif. Layar juga terus aktif dengan refresh rate tinggi. Jika permainan dilakukan menggunakan jaringan seluler atau Wi-Fi, modem turut bekerja.
Dalam kondisi seperti ini, baterai 5.000 atau 6.000 mAh pun dapat berkurang dengan cepat.
Jadi, ketika seseorang mengatakan smartphone dengan baterai besar tetap boros saat bermain game, hal tersebut bukan sesuatu yang aneh.
Ada faktor lain yang membuat smartphone lama terasa semakin boros, yaitu degradasi baterai.
Baterai lithium-ion dan lithium-polymer mengalami perubahan kimia selama siklus penggunaan dan pengisian. Seiring waktu, kemampuan baterai menyimpan energi dapat menurun.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media