Tips n Trik . 10/08/2026, 14:06 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
Seorang pekerja yang memiliki keahlian profesional sekaligus mampu memanfaatkan AI memiliki kombinasi kemampuan yang lebih luas dibandingkan pekerja yang hanya mengandalkan salah satunya.
Perubahan akibat AI kemungkinan tidak berlangsung secara seragam.
Sebagian industri akan mengadopsinya dengan sangat cepat. Industri lain mungkin membutuhkan waktu lebih lama karena terbentur regulasi, biaya, keamanan data, atau kebutuhan interaksi manusia.
Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan bukan apakah semua pekerja harus menggunakan AI.
Pertanyaannya adalah apakah seorang pekerja memahami bagaimana AI mengubah bidang pekerjaannya.
Jika jawabannya tidak, risiko tertinggal memang semakin besar.
Sebaliknya, pekerja yang mempelajari AI tidak harus menjadi programmer atau ahli teknologi. Memahami kemampuan dasar AI, keterbatasannya, serta cara memanfaatkannya secara aman sudah dapat menjadi modal penting.
Jadi, benarkah pekerja yang ogah memakai AI bakal tertinggal?
Tidak otomatis. Pekerja tetap dapat memiliki karier yang kuat tanpa menggunakan AI dalam setiap pekerjaannya. Namun, menolak mempelajari AI sama sekali dapat menjadi risiko ketika teknologi tersebut semakin terintegrasi dengan proses kerja.
Bukti dan analisis dari World Economic Forum serta International Labour Organization menunjukkan bahwa AI lebih mungkin mengubah berbagai tugas dalam pekerjaan daripada menghapus seluruh pekerjaan secara langsung.
Karena itu, tantangan terbesar bagi pekerja bukan sekadar memilih antara manusia atau AI.
Tantangannya adalah belajar menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemampuan manusia yang menjadi dasar keahlian profesional. Di masa depan, pekerja yang mampu menggabungkan pengalaman, penilaian manusia, dan teknologi AI berpotensi memiliki keunggulan lebih besar dalam menghadapi perubahan pasar kerja.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media