Cyber . 11/10/2026, 11:32 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
fin.co.id - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat memberikan jawaban yang terdengar logis, terstruktur, dan meyakinkan meskipun informasi di dalamnya keliru. Fenomena ini terjadi karena AI generatif dirancang untuk menghasilkan respons berdasarkan pola yang dipelajari dari data, bukan sekadar mengambil fakta yang sudah dipastikan kebenarannya.
Masalahnya, jawaban yang disampaikan dengan bahasa lancar sering kali terlihat seperti hasil penelitian yang akurat. Padahal, AI dapat mencampurkan fakta dengan asumsi, menyusun informasi yang tidak sesuai kenyataan, bahkan menciptakan referensi yang sebenarnya tidak ada. Fenomena ini dikenal sebagai halusinasi AI atau AI hallucination.
Untuk memahami mengapa AI bisa memberikan informasi yang salah, penting untuk mengetahui cara kerja model bahasa besar atau large language model (LLM). Teknologi ini menjadi dasar bagi banyak chatbot AI yang mampu menjawab pertanyaan, menyusun artikel, merangkum dokumen, dan membantu berbagai pekerjaan.
Model bahasa besar dilatih menggunakan kumpulan data dalam jumlah besar, termasuk teks dari buku, artikel, situs web, dan berbagai sumber lainnya. Selama proses pelatihan, model mempelajari pola bahasa, hubungan antarkata, struktur kalimat, serta keterkaitan antara berbagai konsep.
Ketika pengguna mengajukan pertanyaan, model menghasilkan respons dengan memperkirakan rangkaian kata atau bagian teks yang paling sesuai berdasarkan konteks dan pola yang telah dipelajari. Proses tersebut memungkinkan AI menyusun jawaban yang terasa alami dan relevan.
Namun, kemampuan menghasilkan bahasa yang baik tidak otomatis membuat AI memahami kebenaran setiap pernyataan yang disampaikan. Model dapat menyusun kalimat yang secara tata bahasa sempurna, tetapi mengandung kesalahan fakta.
Sebagai contoh, ketika ditanya mengenai tahun peluncuran suatu produk, AI mungkin memberikan tahun yang keliru tetapi menyertakan penjelasan yang masuk akal. Jawaban tersebut bisa terdengar meyakinkan karena model mampu menyusun narasi yang menyerupai penjelasan dari seorang ahli.
Dengan kata lain, kelancaran berbahasa dan ketepatan informasi merupakan dua hal yang berbeda.
Salah satu kekuatan AI generatif adalah kemampuannya menyesuaikan gaya komunikasi berdasarkan konteks. AI dapat menjelaskan topik teknis menggunakan istilah ilmiah, menyusun laporan dengan bahasa formal, atau memberikan jawaban singkat yang terlihat tegas.
Kemampuan ini membuat informasi yang dihasilkan tampak kredibel, terutama ketika jawabannya disertai penjelasan terperinci, urutan sebab-akibat, dan istilah teknis.
Akan tetapi, gaya bahasa profesional tidak menjamin bahwa isi jawabannya benar. AI dapat menggunakan istilah yang tepat dalam konteks yang salah atau menyusun penjelasan yang terlihat sistematis berdasarkan premis yang keliru.
Misalnya, ketika menjelaskan penyebab kerusakan baterai ponsel, AI bisa menghubungkan panas, siklus pengisian daya, dan degradasi baterai dengan cara yang masuk akal. Namun, AI tetap dapat memberikan kesimpulan yang salah jika tidak mempertimbangkan spesifikasi perangkat atau kondisi penggunaan yang sebenarnya.
Karena itu, pengguna perlu membedakan antara jawaban yang terdengar ahli dan jawaban yang didukung bukti.
AI tidak selalu memiliki informasi yang cukup untuk menjawab setiap pertanyaan. Data pelatihannya mungkin tidak mencakup suatu kejadian terbaru, informasi tertentu mungkin tidak tersedia, atau pertanyaan pengguna bisa terlalu spesifik.
Dalam kondisi tersebut, model masih dapat menghasilkan jawaban berdasarkan pola yang paling sesuai dengan konteks. Jika pola tersebut tidak cukup kuat untuk menghasilkan fakta yang benar, responsnya berpotensi menyimpang dari kenyataan.
Contohnya, pengguna meminta penjelasan tentang fitur baru pada ponsel yang baru diluncurkan. Jika informasi mengenai fitur tersebut belum tersedia dalam data yang dapat diakses AI, model mungkin menggabungkan karakteristik dari perangkat lain dan menghasilkan penjelasan yang tampak masuk akal.
Masalahnya, hasil prediksi tersebut tidak selalu disertai penanda yang jelas bahwa informasi itu belum terverifikasi.
Sebagian sistem AI dapat menyatakan ketidakpastian atau menolak menjawab ketika informasinya tidak mencukupi. Namun, kemampuan tersebut berbeda-beda bergantung pada model, pelatihan, dan sistem pendukung yang digunakan.
Dalam percakapan sehari-hari, manusia dapat mengandalkan pengalaman, pengamatan langsung, dan pengetahuan tentang lingkungan untuk memeriksa apakah suatu pernyataan sesuai kenyataan.
AI generatif memiliki mekanisme yang berbeda. Model bahasa mempelajari keterkaitan pola dari data, tetapi tidak otomatis memiliki mekanisme verifikasi independen untuk setiap pernyataan yang dihasilkan.
Akibatnya, informasi yang menyerupai fakta dapat ikut membentuk jawaban meskipun kebenarannya belum dipastikan.
Sebagai contoh, AI dapat menyebut nama sebuah lembaga, judul penelitian, atau nama peneliti yang terdengar realistis. Unsur-unsur tersebut bisa tersusun secara meyakinkan, tetapi belum tentu benar-benar merujuk pada sumber yang ada.
Hal ini menjelaskan mengapa jawaban yang terperinci tidak selalu lebih akurat daripada jawaban yang sederhana. Detail tambahan dapat memperkaya penjelasan, tetapi juga dapat memperbanyak peluang munculnya kesalahan.
Salah satu penyebab halusinasi AI berkaitan dengan cara model dilatih dan dievaluasi. Dalam kondisi tertentu, sistem dapat lebih diuntungkan ketika memberikan jawaban daripada mengakui bahwa informasi yang dibutuhkan tidak diketahui.
Penelitian OpenAI yang diterbitkan pada 2025 dalam makalah Why Language Models Hallucinate membahas persoalan ini. Para peneliti menjelaskan bahwa metode evaluasi yang terlalu menekankan ketepatan jawaban dapat memberikan insentif bagi model untuk menebak ketika menghadapi pertanyaan sulit, alih-alih menyatakan ketidakpastian.
Logikanya mirip dengan ujian pilihan ganda. Jika peserta hanya dinilai berdasarkan jumlah jawaban benar, menebak bisa menjadi strategi yang lebih menguntungkan daripada membiarkan pertanyaan kosong. Dalam sistem AI, kecenderungan serupa dapat muncul ketika evaluasi tidak memberikan penghargaan yang memadai bagi jawaban yang secara tepat mengakui keterbatasan informasi.
Akibatnya, model dapat menghasilkan jawaban yang salah dengan tingkat keyakinan bahasa yang tinggi. Persoalan ini bukan berarti AI sengaja berbohong, melainkan menunjukkan bahwa perilaku model turut dipengaruhi oleh sasaran pelatihan dan metode penilaiannya.
Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa peningkatan kemampuan model tidak otomatis menghilangkan halusinasi. Sistem yang lebih canggih tetap dapat membuat kesalahan, terutama ketika harus menjawab pertanyaan yang informasinya tidak tersedia atau sulit dipastikan.
Keterbatasan informasi juga dapat membuat AI memberikan jawaban yang salah. Model yang hanya mengandalkan pengetahuan dari proses pelatihan bisa kesulitan menjawab pertanyaan mengenai kejadian terbaru, perubahan kebijakan, harga produk, atau spesifikasi perangkat yang baru dirilis.
Sebagai contoh, pengguna menanyakan harga sebuah ponsel pada Oktober 2026. Jika AI tidak memiliki akses ke informasi terkini, jawabannya mungkin didasarkan pada harga lama atau perkiraan dari produk sejenis.
Situasi serupa dapat terjadi ketika AI menjelaskan peraturan yang telah berubah atau mengutip hasil penelitian yang belum tersedia dalam sumber pengetahuannya.
Sebagian layanan AI dapat menggunakan mesin pencari, basis data, atau dokumen eksternal untuk memperoleh informasi tambahan. Pendekatan ini dapat membantu meningkatkan akurasi karena jawaban memiliki sumber yang bisa diperiksa.
Namun, akses internet juga bukan jaminan kebenaran. AI masih bisa salah membaca konteks, menggunakan sumber yang tidak tepercaya, atau menarik kesimpulan yang tidak didukung oleh dokumen yang ditemukan.
Persoalan ini bukan hanya kekhawatiran pengguna, tetapi juga menjadi objek penelitian ilmiah.
Penelitian berjudul Detecting Hallucinations in Large Language Models Using Semantic Entropy yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada 2024 membahas metode untuk mendeteksi jawaban AI yang berpotensi tidak berdasar atau keliru.
Penelitian tersebut mengembangkan pendekatan berbasis semantic entropy, yaitu pengukuran ketidakpastian berdasarkan makna jawaban yang dihasilkan. Pendekatan ini mempertimbangkan apakah model memberikan jawaban dengan makna yang konsisten atau menghasilkan beragam jawaban yang berbeda ketika menghadapi pertanyaan yang sama.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa ketidakpastian model dapat dimanfaatkan untuk membantu mengenali jawaban yang berisiko mengandung informasi keliru.
Meski demikian, metode tersebut bukan alat yang bisa menjamin seluruh kesalahan terdeteksi. AI masih dapat menghasilkan pernyataan yang salah secara konsisten, sehingga pemeriksaan terhadap sumber dan bukti tetap diperlukan.
Penelitian ini memperlihatkan bahwa mengatasi halusinasi AI membutuhkan lebih dari sekadar membuat model mampu menghasilkan bahasa yang semakin lancar. Sistem juga perlu dikembangkan agar lebih baik dalam mengenali batas pengetahuannya dan memperkirakan kapan suatu jawaban tidak dapat diandalkan.
Pengguna tidak harus berhenti memanfaatkan AI hanya karena teknologi ini masih bisa menghasilkan informasi keliru. Hal yang lebih penting adalah mengetahui kapan jawaban perlu diperiksa dan bagaimana melakukan verifikasi.
Jika AI menyebutkan tanggal, angka, nama peneliti, hasil penelitian, atau peraturan tertentu, periksa informasi tersebut melalui sumber aslinya.
Untuk informasi teknologi, pengguna dapat memeriksa dokumentasi resmi produsen. Untuk informasi ilmiah, jurnal penelitian dan publikasi lembaga akademik dapat menjadi rujukan. Sementara itu, informasi mengenai kebijakan pemerintah sebaiknya diperiksa melalui dokumen resmi yang relevan.
Jangan menganggap informasi benar hanya karena AI menyertakan nama sumber atau kutipan. Pastikan sumber tersebut benar-benar ada dan isinya mendukung klaim yang disampaikan.
Pengguna dapat memberikan instruksi yang mendorong AI untuk membedakan fakta terverifikasi, perkiraan, dan informasi yang belum diketahui.
Misalnya, pengguna dapat meminta AI menandai klaim yang belum memiliki sumber, menjelaskan keterbatasan informasi, atau tidak memberikan jawaban pasti apabila bukti yang tersedia belum mencukupi.
Cara ini dapat membantu mengurangi risiko jawaban spekulatif, meskipun tidak menjamin AI akan selalu mengenali kesalahannya sendiri.
Jawaban panjang dengan banyak istilah teknis tidak otomatis lebih akurat daripada jawaban singkat. Bahkan, penjelasan yang sangat terperinci bisa membuat informasi keliru semakin sulit dikenali.
Fokuslah pada klaim utama dan bukti yang mendukungnya. Jika AI memberikan penjelasan panjang, periksa apakah setiap bagian memiliki dasar yang jelas atau sekadar memperluas asumsi awal.
Untuk keputusan penting, jangan hanya mengandalkan satu jawaban AI. Bandingkan informasi dengan sumber tepercaya yang tidak sekadar mengulang klaim yang sama.
Jika dua chatbot memberikan jawaban serupa, hal itu juga belum membuktikan bahwa informasi tersebut benar. Kedua model mungkin memiliki keterbatasan serupa atau menghasilkan kesalahan berdasarkan pola yang sama.
Verifikasi melalui dokumen primer atau bukti independen tetap menjadi langkah yang lebih kuat.
Pengembang AI terus mengembangkan metode untuk mengurangi kesalahan, antara lain dengan meningkatkan kualitas data pelatihan, memperbaiki kemampuan penalaran, menghubungkan model dengan sumber informasi eksternal, dan mengembangkan mekanisme untuk mengenali ketidakpastian.
Salah satu pendekatan yang digunakan adalah retrieval-augmented generation (RAG). Dalam pendekatan ini, sistem mengambil informasi dari dokumen atau basis data yang relevan sebelum menyusun jawaban. Tujuannya adalah membuat respons lebih terikat pada sumber yang dapat diperiksa, bukan hanya mengandalkan pola yang dipelajari selama pelatihan.
Metode lain mencakup pemeriksaan silang terhadap jawaban, penggunaan alat bantu untuk menghitung atau mencari data, serta evaluasi yang memberikan perhatian lebih besar pada kesalahan faktual dan kemampuan mengakui ketidaktahuan.
Namun, setiap pendekatan memiliki keterbatasan. Sumber yang digunakan bisa tidak lengkap, proses pengambilan informasi bisa gagal, dan model masih dapat salah menafsirkan bukti yang tersedia.
Karena itu, target pengembangan AI bukan hanya menghasilkan jawaban yang semakin cerdas dan lancar, tetapi juga membangun sistem yang mampu menyampaikan batasan pengetahuannya secara lebih tepat.
AI bisa memberikan jawaban meyakinkan meski informasinya salah karena kemampuan menghasilkan bahasa yang alami tidak sama dengan kemampuan memastikan kebenaran fakta. Model bahasa besar mempelajari pola dari data, menyusun respons berdasarkan konteks, dan dalam situasi tertentu dapat menebak ketika informasi yang diperlukan tidak tersedia.
Penelitian dalam jurnal Nature dan makalah OpenAI menunjukkan bahwa halusinasi AI merupakan persoalan teknis yang dapat diteliti, diukur, dan dikurangi, meskipun belum sepenuhnya dapat dihilangkan.
Bagi pengguna, pelajaran terpentingnya adalah tidak menyamakan kelancaran bahasa dengan akurasi. AI tetap bermanfaat untuk mencari ide, memahami konsep, dan mempercepat pekerjaan. Namun, fakta, angka, kutipan, serta informasi yang menjadi dasar keputusan penting harus diperiksa melalui sumber tepercaya.
Dengan memahami cara kerja AI dan keterbatasannya, pengguna dapat memanfaatkan teknologi ini secara lebih kritis tanpa harus menganggap setiap jawaban sebagai kebenaran mutlak.
OpenAI. Why Language Models Hallucinate. 2025.
Sebastian Farquhar, Jannik Kossen, Lorenz Kuhn, dan Yarin Gal. Detecting Hallucinations in Large Language Models Using Semantic Entropy. Nature, 2024.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media