Tips n Trik . 11/10/2026, 11:24 WIB

Apakah Kode OTP yang Sudah Kedaluwarsa Masih Bisa Disalahgunakan?

Penulis : Makruf  |  Editor : Makruf

fin.co.id - Kode OTP banyak digunakan untuk login akun, transaksi perbankan, pendaftaran layanan digital, hingga verifikasi perubahan kata sandi. Karena kode ini biasanya hanya berlaku dalam waktu singkat, sebagian pengguna menganggap OTP yang sudah tidak berlaku tidak lagi memiliki risiko. Padahal, ada beberapa hal yang tetap perlu diperhatikan untuk melindungi akun pribadi.

Bagaimana Cara Kerja Kode OTP?

Kode OTP merupakan kode verifikasi sekali pakai yang digunakan untuk membuktikan bahwa seseorang memiliki akses ke perangkat, nomor telepon, alamat email, atau metode autentikasi tertentu.

Kode ini umumnya terdiri dari empat hingga delapan digit angka, meskipun formatnya dapat berbeda bergantung pada layanan yang digunakan. OTP bisa dikirim melalui SMS, email, aplikasi autentikator, atau dihasilkan oleh perangkat keamanan.

Masa berlaku OTP juga berbeda-beda. Sebagian layanan menggunakan kode yang berlaku selama beberapa puluh detik, sedangkan layanan lain memberikan waktu beberapa menit untuk menyelesaikan verifikasi.

Ketika masa berlakunya habis, sistem yang menerapkan kedaluwarsa dengan benar akan menolak kode tersebut. Sistem juga dapat menolak OTP yang sudah pernah digunakan, meskipun kode itu belum melewati batas waktunya.

Dengan mekanisme tersebut, OTP membantu mengurangi risiko penyalahgunaan kode verifikasi. Namun, OTP bukan satu-satunya lapisan keamanan yang menentukan apakah sebuah akun dapat diakses oleh orang lain.

Apakah OTP Kedaluwarsa Benar-Benar Tidak Bisa Digunakan?

Dalam kondisi normal, OTP yang sudah melewati masa berlaku tidak dapat digunakan untuk menyelesaikan autentikasi yang sama. Hal ini bergantung pada bagaimana sistem penyedia layanan mengelola kode, masa berlaku, dan proses verifikasinya.

National Institute of Standards and Technology (NIST), lembaga standar teknologi Amerika Serikat, menjelaskan dalam pedoman Digital Identity Guidelines bahwa kode autentikasi harus memiliki masa berlaku yang ditentukan dan hanya boleh diterima satu kali selama periode validitasnya. Ketentuan tersebut bertujuan mencegah penggunaan ulang kode untuk mengakses akun.

Artinya, ketika sebuah kode benar-benar kedaluwarsa dan sistem telah menolaknya, orang yang mengetahui kode tersebut seharusnya tidak bisa menggunakannya kembali untuk proses autentikasi itu.

Meski demikian, ada perbedaan antara kode OTP yang sudah tidak berlaku dan akun yang sudah terlanjur diakses oleh orang lain. Jika pelaku berhasil memasukkan kode sebelum masa berlakunya habis, kedaluwarsa setelahnya tidak otomatis mengeluarkan pelaku dari akun yang telah terbuka.

Sebagai contoh, seseorang menerima OTP untuk login ke akun email. Pelaku berhasil memperoleh kode tersebut melalui penipuan dan menggunakannya sebelum kedaluwarsa. Walaupun kode itu kemudian tidak berlaku, sesi login yang telah terbentuk bisa saja tetap aktif sampai pengguna atau sistem mengakhirinya.

Karena itu, masa berlaku OTP bukan jaminan mutlak bahwa akun akan selalu aman.

Bagaimana OTP Kedaluwarsa Masih Berkaitan dengan Risiko Penipuan?

Ada beberapa situasi yang perlu dipahami agar pengguna tidak keliru menganggap semua risiko berakhir ketika kode OTP kedaluwarsa.

1. Pelaku Meminta Kode OTP yang Baru

Salah satu metode penipuan yang umum adalah meminta korban mengirimkan kode verifikasi terbaru dengan alasan akun bermasalah, transaksi tertunda, atau hadiah harus segera diklaim.

Ketika kode pertama kedaluwarsa, pelaku dapat meminta korban mengirimkan kode berikutnya. Jika korban menuruti permintaan tersebut, pelaku berpeluang menggunakan kode baru untuk menyelesaikan proses verifikasi.

Dalam situasi ini, masalahnya bukan karena OTP lama masih aktif, melainkan karena korban memberikan kode yang masih berlaku kepada pihak lain.

2. Kode Sudah Digunakan Sebelum Kedaluwarsa

Kode OTP yang telah berhasil digunakan tidak otomatis membatalkan akses yang sudah diperoleh. Misalnya, pelaku berhasil masuk ke akun media sosial sebelum kode berakhir.

Jika layanan tidak mewajibkan verifikasi ulang untuk setiap tindakan sensitif, pelaku mungkin masih bisa menggunakan sesi yang terbuka untuk melihat informasi atau mengubah pengaturan tertentu.

Oleh karena itu, jika muncul notifikasi login yang tidak dikenal, pengguna perlu memeriksa aktivitas akun dan mengakhiri sesi yang mencurigakan, bukan hanya mengandalkan kedaluwarsa OTP.

3. OTP Digunakan untuk Menipu Korban di Situs Palsu

Penjahat siber juga dapat membuat halaman login palsu yang menyerupai situs resmi. Korban kemudian diminta memasukkan nama pengguna, kata sandi, dan OTP yang diterima.

Jika kode tersebut masih berlaku ketika diteruskan kepada pelaku, kode dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan proses autentikasi pada layanan yang ditargetkan. Serangan semacam ini dikenal sebagai phishing.

Bahkan ketika OTP yang pertama sudah kedaluwarsa, pelaku dapat mencoba kembali dengan meminta korban memasukkan kode baru. Karena itu, pengguna harus memastikan alamat situs dan identitas layanan sebelum memasukkan informasi verifikasi.

Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) Amerika Serikat menjelaskan bahwa kode OTP yang dimasukkan secara manual masih rentan terhadap phishing. Metode autentikasi yang tahan phishing, seperti FIDO/WebAuthn, memberikan perlindungan lebih kuat terhadap jenis serangan tersebut.

4. Pengguna Tidak Menyadari Akunnya Telah Diambil Alih

OTP bukan satu-satunya cara untuk mengambil alih akun. Pelaku dapat mencoba memanfaatkan kata sandi yang bocor, pemulihan akun yang tidak aman, atau penggantian kartu SIM melalui penipuan.

Dalam kondisi tersebut, OTP lama yang kedaluwarsa bukan faktor utama. Risiko muncul karena pelaku menemukan jalur lain untuk mengakses akun atau memperoleh kode verifikasi baru.

Itulah sebabnya keamanan akun perlu mencakup kata sandi yang kuat, autentikasi multifaktor, serta pengamanan nomor telepon dan alamat email pemulihan.

Apa yang Harus Dilakukan Jika OTP Terlanjur Dibagikan?

Jika kode OTP pernah diberikan kepada orang lain, jangan langsung menganggap akun aman hanya karena kode tersebut sudah kedaluwarsa. Lakukan beberapa pemeriksaan berikut.

  1. Periksa aktivitas login dan riwayat transaksi untuk mengetahui apakah ada akses atau tindakan yang tidak dikenal.

  2. Ganti kata sandi jika ada indikasi akun telah diakses pihak lain. Gunakan kata sandi unik yang tidak dipakai pada layanan lain.

  3. Keluar dari sesi atau perangkat yang tidak dikenal melalui pengaturan keamanan akun.

  4. Aktifkan autentikasi multifaktor dan pilih metode yang lebih tahan phishing jika layanan menyediakannya.

  5. Hubungi layanan resmi penyedia akun atau bank jika OTP berkaitan dengan transaksi keuangan, perubahan data, atau akses yang mencurigakan.

  6. Jangan memberikan kode OTP berikutnya kepada siapa pun, termasuk orang yang mengaku sebagai petugas layanan pelanggan.

Jika OTP berkaitan dengan transaksi perbankan yang tidak dikenali, segera hubungi bank melalui saluran resmi. Jangan menunggu sampai muncul kerugian berikutnya.

Cara Melindungi OTP agar Tidak Disalahgunakan

Pencegahan terbaik adalah memperlakukan setiap kode OTP sebagai informasi rahasia. Kode tersebut tidak boleh dibagikan kepada orang lain, meskipun orang tersebut mengaku sebagai petugas bank, operator seluler, atau perwakilan platform digital.

Selain itu, pengguna perlu menerapkan beberapa kebiasaan berikut.

  • Jangan memasukkan OTP melalui tautan yang dikirim oleh nomor atau akun tidak dikenal.

  • Jangan membagikan tangkapan layar pesan OTP kepada orang lain karena dapat memuat kode dan informasi akun.

  • Waspadai permintaan OTP yang tidak pernah diajukan sendiri, terutama jika disertai ancaman pemblokiran akun atau iming-iming hadiah.

  • Gunakan autentikasi multifaktor pada email, media sosial, dan layanan keuangan.

  • Pilih passkey atau kunci keamanan berbasis FIDO jika tersedia, karena metode ini dirancang untuk lebih tahan terhadap phishing dibandingkan kode yang diketik secara manual.

Perlu dipahami bahwa menerima OTP tanpa meminta bukan bukti pasti bahwa akun telah diretas. Namun, kondisi tersebut dapat menandakan seseorang sedang mencoba login, melakukan pemulihan akun, atau memulai transaksi menggunakan informasi pengguna. Periksa aktivitas akun melalui aplikasi atau situs resmi sebelum mengambil tindakan lebih lanjut.

Penutup

Kode OTP yang sudah kedaluwarsa umumnya tidak dapat digunakan kembali untuk proses verifikasi yang sama apabila sistem menerapkan masa berlaku dan pencegahan penggunaan ulang dengan benar. Namun, kedaluwarsa kode tidak membatalkan sesi login yang telah berhasil dibuat dan tidak menutup kemungkinan penipuan menggunakan OTP baru atau metode pengambilalihan akun lainnya.

Prinsip keamanan digital modern menekankan bahwa autentikasi harus melindungi bukan hanya proses login, tetapi juga sesi akun dan pemulihan akses. Karena itu, pengguna tetap perlu menjaga kerahasiaan kode OTP, memeriksa aktivitas akun, dan mengaktifkan metode autentikasi yang lebih kuat.

Referensi

  1. National Institute of Standards and Technology (NIST) — Digital Identity Guidelines: Authentication and Lifecycle Management, Special Publication 800-63B.

  2. Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) — Implementing Phishing-Resistant Multifactor Authentication.

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com