QR Code Makin Sering Dipakai, Mengapa Teknologi Ini Semakin Relevan?
QR Code bukan teknologi baru. Pola kotak hitam-putih tersebut sudah berusia lebih dari tiga dekade, tetapi justru semakin mudah ditemukan dalam kehidupan
Kemudahan QR Code sekaligus menciptakan masalah keamanan.
Manusia dapat membaca alamat situs yang dicetak sebagai teks, tetapi tidak dapat mengetahui isi QR Code hanya dengan melihat pola kotaknya.
Kondisi tersebut dimanfaatkan dalam serangan phishing berbasis QR Code yang terkadang disebut "quishing".
Federal Trade Commission (FTC) Amerika Serikat pada September 2026 kembali memperingatkan mengenai QR Code palsu. Salah satu modus yang dilaporkan adalah pelaku menempelkan QR Code palsu di atas kode pembayaran resmi, misalnya pada fasilitas parkir.
Baca Juga
Korban yang memindainya kemudian dapat diarahkan menuju situs palsu untuk mencuri uang atau informasi pribadi.
Karena itu, kemudahan memindai QR Code perlu disertai kebiasaan memeriksa tujuan sebelum melanjutkan.
Jika aplikasi kamera menampilkan alamat situs setelah pemindaian, periksa domainnya terlebih dahulu. Pengguna juga perlu berhati-hati terhadap QR Code yang terlihat seperti stiker tambahan yang ditempel di atas kode asli.
Mengapa QR Code Belum Tergantikan?
Jawabannya bukan karena QR Code merupakan teknologi paling canggih.
Justru kesederhanaannya yang menjadi kekuatan.
Baca Juga
QR Code murah untuk dibuat, mudah dicetak, tidak membutuhkan baterai, dapat ditampilkan di layar, dapat dibaca kamera smartphone, memiliki kemampuan koreksi kesalahan, serta telah menjadi standar internasional.
Pada sisi pengguna, interaksinya juga sangat sederhana: buka kamera, arahkan, lalu lakukan tindakan berikutnya.
Teknologi baru tidak selalu harus menggantikan teknologi lama. Dalam banyak kasus, teknologi lama justru mendapatkan fungsi baru ketika ekosistem di sekelilingnya berkembang.
Penutup
QR Code menunjukkan bahwa usia teknologi tidak selalu menentukan relevansinya.