Promosi Karyawan Kini Mulai Diukur dari Kemampuan Memakai AI
Kemampuan memakai kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai menjadi faktor baru dalam penilaian kinerja di banyak perusahaan. Jika sebelumnya
Contoh serupa terlihat ketika perusahaan membuat peringkat penggunaan AI. BBC melaporkan bahwa Amazon pernah menutup papan peringkat internal terkait pemakaian AI setelah muncul perilaku karyawan yang memberi tugas-tugas tidak perlu kepada AI demi menaikkan posisi mereka.
Hal tersebut menunjukkan bahwa metrik yang salah dapat menghasilkan perilaku yang salah. AI seharusnya dipakai ketika benar-benar membantu menyelesaikan masalah, bukan sebagai formalitas untuk memenuhi target.
Transparansi Menjadi Kunci bagi Perusahaan
Pengacara ketenagakerjaan Tina Chander mengatakan kepada BBC bahwa penggunaan AI dalam pekerjaan memunculkan pertanyaan soal keadilan dan pengupahan. Jika AI membuat pekerja mampu menghasilkan lebih banyak output, perusahaan perlu menjelaskan apakah ekspektasi kerja akan ikut berubah dan bagaimana penghargaan diberikan.
Kebijakan yang transparan dapat mencegah salah paham. Perusahaan perlu menjelaskan pekerjaan apa yang boleh dibantu AI, data apa yang tidak boleh dimasukkan ke platform AI, bagaimana hasil AI harus diperiksa, serta sejauh mana penggunaan AI akan memengaruhi penilaian kinerja.
Baca Juga
Pelatihan juga perlu diberikan secara merata. Tidak semua pekerja memiliki akses, pengalaman, atau waktu yang sama untuk belajar teknologi baru. Menilai kemampuan AI tanpa menyediakan pelatihan yang memadai berisiko menciptakan ketimpangan di lingkungan kerja.
Penutup
Kemampuan memakai AI memang berpotensi menjadi keunggulan penting dalam dunia kerja modern. Namun, promosi karyawan tidak seharusnya ditentukan hanya dari seberapa sering seseorang memakai AI. Penilaian yang sehat harus tetap mempertimbangkan kualitas hasil kerja, ketelitian, pengalaman, tanggung jawab, kreativitas, etika, dan kemampuan mengambil keputusan.
AI dapat mempercepat pekerjaan, tetapi tidak menggantikan penilaian manusia yang matang. Bukti dari munculnya penggunaan AI yang bersifat formalitas menunjukkan bahwa teknologi perlu diukur melalui dampaknya terhadap kualitas kerja, bukan sekadar frekuensi pemakaiannya. Perusahaan yang transparan, memberi pelatihan, dan membagikan manfaat produktivitas secara adil akan lebih siap menghadapi perubahan dunia kerja berbasis AI.
Referensi
Baca Juga
BBC News, Should promotion depend on how workers use AI?