Adakah Teknologi yang Bisa Membuktikan Foto dan Video Bukan Hasil Manipulasi AI?
Kemajuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence telah membuat foto dan video sintetis semakin sulit dibedakan dari rekaman asli. Wajah, suara, latar
C2PA sendiri mengakui bahwa manifest dapat dihapus sepenuhnya dari aset. Hilangnya Content Credentials juga tidak berarti konten tersebut pasti palsu. Bisa saja foto dibuat oleh kamera yang belum mendukung C2PA atau metadata terhapus ketika file dikirim melalui platform tertentu.
Untuk mengurangi masalah tersebut, dikembangkan konsep Durable Content Credentials. Pendekatan ini menggabungkan data yang tertanam dalam file dengan watermark tidak terlihat dan sidik jari digital.
Watermark dapat membawa penanda yang tetap dapat ditemukan meskipun file mengalami perubahan tertentu. Sementara itu, sidik jari digital dapat digunakan untuk mencocokkan salinan konten dengan catatan asal-usul yang tersimpan di tempat lain.
Penggabungan beberapa metode tersebut dimaksudkan agar informasi provenance tidak hanya bergantung pada metadata yang mudah hilang selama distribusi.
Baca Juga
C2PA Tidak Menggunakan Blockchain
C2PA tidak mewajibkan penggunaan blockchain. Standar ini menggunakan teknologi kriptografi yang telah lama dikenal, seperti hashing, tanda tangan digital, sertifikat, dan struktur data yang dapat diverifikasi.
Menurut penjelasan resmi C2PA, pendekatan tersebut dipilih untuk menghindari kompleksitas, masalah skalabilitas, dan kebutuhan sumber daya yang sering dikaitkan dengan blockchain. Walaupun demikian, sistem berbasis blockchain tetap dapat digunakan oleh pihak lain untuk menyimpan atau mendistribusikan Content Credentials.
Artinya, keamanan C2PA tidak berasal dari pencatatan transaksi pada jaringan mata uang kripto. Keamanannya bergantung pada kemampuan sistem untuk mendeteksi perubahan file, memeriksa tanda tangan digital, dan menilai tingkat kepercayaan terhadap pihak yang menandatangani informasi tersebut.
Manfaat C2PA bagi Masyarakat dan Media
Bagi masyarakat, C2PA dapat memberikan konteks tambahan sebelum foto atau video dipercaya dan dibagikan. Pengguna dapat melihat apakah konten berasal dari kamera, telah diedit, atau dibuat menggunakan sistem AI generatif.
Baca Juga
Bagi jurnalis, rekam jejak tersebut dapat membantu memeriksa materi visual yang diterima dari fotografer, kantor berita, saksi mata, atau sumber lain. C2PA juga dapat membantu organisasi media mempertahankan catatan proses editorial tanpa harus membuka seluruh informasi sensitif kepada publik.
Fotografer dan kreator dapat menggunakannya untuk menunjukkan asal karya serta mempertahankan hubungan antara konten dengan proses pembuatannya. Sementara itu, pengembang AI dapat memberi tanda yang lebih mudah diverifikasi pada gambar atau video sintetis.
Meski demikian, penerapan C2PA tetap bersifat sukarela. Manfaatnya akan semakin besar jika kamera, telepon pintar, perangkat lunak penyuntingan, generator AI, situs berita, aplikasi perpesanan, dan media sosial menerapkan standar yang sama.
Cara Memeriksa Content Credentials
Konten yang memiliki Content Credentials biasanya dapat dikenali melalui ikon informasi khusus. Ketika ikon tersebut dipilih, pengguna dapat melihat ringkasan mengenai sumber, aplikasi yang digunakan, riwayat penyuntingan, dan kemungkinan keterlibatan AI.