Tips n Trik

AI di Smartphone Bisa Mengakses Pesan, Foto, dan Kalender, Apakah Aman?

Kecerdasan buatan atau AI di smartphone berkembang dari sekadar chatbot menjadi asisten digital yang dapat memahami konteks kehidupan penggunanya. AI tidak lagi

AI di Smartphone Bisa Mengakses Pesan, Foto, dan Kalender, Apakah Aman?
AI Smartphone, Ilustrasi: DALL·E 3

Konsep izin seperti ini sangat penting.

Secara sederhana, AI tidak seharusnya dipandang sebagai sebuah program yang otomatis dapat membuka seluruh isi smartphone. Sistem operasi tetap menjadi lapisan yang menentukan data apa yang dapat diakses oleh aplikasi.

Foto dan Email Termasuk Data yang Sangat Sensitif

Risiko mulai meningkat ketika AI diberikan akses ke sumber informasi yang mengandung banyak konteks pribadi.

Galeri foto adalah salah satu contohnya.

Foto tidak hanya memperlihatkan gambar. Dari sebuah koleksi foto, sistem secara teori dapat memperoleh informasi mengenai tempat yang sering dikunjungi, orang yang sering muncul bersama pengguna, kendaraan, hewan peliharaan, aktivitas, dokumen yang pernah difoto, hingga berbagai kebiasaan lain.

Email bahkan dapat menyimpan informasi yang lebih luas.

Tiket perjalanan, tagihan, transaksi, percakapan pekerjaan, pemulihan akun, alamat, hingga jadwal tertentu dapat tersimpan di dalamnya.

Inilah alasan akses AI terhadap data tidak boleh dilihat hanya berdasarkan satu file yang dibuka. Nilai terbesar justru muncul ketika sistem dapat menghubungkan banyak informasi berbeda menjadi konteks yang lebih lengkap.

Google mengakui bahwa Personal Intelligence dapat mengambil informasi tertentu dari Gmail dan Google Photos untuk menjawab pertanyaan pengguna. Google menyatakan isi seluruh Gmail atau Google Photos tidak digunakan secara langsung untuk melatih model generatifnya. Namun, dokumentasi Google juga menjelaskan bahwa ketika Gemini berinteraksi dengan aplikasi terhubung, ringkasan, kutipan relevan, media yang dihasilkan, atau inferensi tertentu dapat digunakan untuk membantu meningkatkan layanan tergantung pengaturan aktivitas pengguna.

Karena itu, membaca kebijakan pemrosesan data tetap menjadi hal penting ketika pengguna mengaktifkan integrasi AI.

Risiko Terbesar Bukan Hanya Perusahaan AI

Ketika membahas privasi AI, perhatian biasanya langsung tertuju pada kemungkinan perusahaan teknologi mengumpulkan data.

Padahal, ada risiko lain yang tidak kalah penting.

Jika smartphone berhasil diretas atau akun utama pengguna diambil alih, kemampuan AI yang terhubung dengan banyak aplikasi berpotensi membuat pencarian informasi sensitif menjadi jauh lebih mudah bagi pihak yang tidak berwenang.

Berita Terkait