Cyber

AI Bisa Dipakai Hacker untuk Menipu Korban, Ini Modus yang Mulai Berkembang

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak hanya dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan manusia. Teknologi yang sama juga mulai digunakan oleh

AI Bisa Dipakai Hacker untuk Menipu Korban, Ini Modus yang Mulai Berkembang
Hacker, Image: Franz26 / Pixabay

Penipuan biasanya membutuhkan komunikasi berulang dengan korban. Pelaku harus menjawab pertanyaan, meyakinkan target, dan mempertahankan percakapan agar korban tidak curiga.

AI dapat membantu proses tersebut.

Sistem berbasis AI dapat digunakan untuk menghasilkan respons dengan cepat sehingga pelaku mampu menangani lebih banyak calon korban. Percakapan juga dapat dibuat lebih natural dibandingkan pesan otomatis tradisional.

Hal ini membuat korban mungkin merasa sedang berkomunikasi dengan manusia yang benar-benar memahami situasinya.

Bagaimana Cara Mengenali Penipuan Berbasis AI?

Menghadapi penipuan berbasis AI membutuhkan kebiasaan verifikasi yang lebih kuat.

Jika seseorang menghubungi dan meminta uang, kode OTP, kata sandi, atau informasi sensitif, jangan langsung percaya hanya karena suara, wajah, atau gaya komunikasinya terlihat familiar.

Lakukan verifikasi melalui jalur lain. Misalnya, jika seseorang mengaku sebagai anggota keluarga, hubungi nomor yang biasa digunakan untuk memastikan identitasnya.

Jika seseorang mengaku sebagai petugas bank atau perusahaan, tutup komunikasi dan hubungi layanan resmi perusahaan tersebut melalui saluran yang Anda ketahui sendiri.

Jangan menggunakan nomor telepon, tautan, atau kontak yang diberikan oleh pihak yang sedang meminta informasi.

Hal lain yang penting adalah tidak memberikan kode OTP, PIN, password, maupun informasi keamanan kepada orang lain. Lembaga resmi umumnya memiliki prosedur sendiri dan tidak seharusnya meminta kredensial keamanan pribadi melalui komunikasi yang mencurigakan.

Jangan Hanya Mengandalkan Mata Dan Telinga

Perkembangan AI menunjukkan bahwa metode verifikasi tradisional juga menghadapi tantangan baru.

Dulu, melihat wajah seseorang dalam video atau mendengar suaranya melalui telepon mungkin dianggap cukup untuk memastikan identitas. Kini, teknologi generatif membuat kedua hal tersebut dapat dipalsukan.

Karena itu, identitas sebaiknya diverifikasi berdasarkan lebih dari satu faktor.

Berita Terkait