Menolak Gunakan AI? Studi Ungkap Risiko Tertinggal di Dunia Kerja
Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, hingga
Laporan Future of Jobs dari World Economic Forum menempatkan kemampuan memanfaatkan AI sebagai salah satu keterampilan yang semakin penting dalam beberapa tahun ke depan.
Menurut laporan tersebut, otomatisasi memang akan mengubah sejumlah pekerjaan. Namun, di saat yang sama juga akan muncul profesi-profesi baru yang membutuhkan kemampuan memanfaatkan AI secara efektif.
Perusahaan tidak hanya mencari pekerja yang memiliki pengetahuan teknis, tetapi juga individu yang mampu berkolaborasi dengan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan menghasilkan keputusan yang lebih baik.
Microsoft: AI Mulai Menjadi Keterampilan Penting
Laporan Work Trend Index dari Microsoft juga menunjukkan perubahan besar di lingkungan kerja.
Baca Juga
Berdasarkan survei terhadap puluhan ribu pekerja dan pemimpin perusahaan di berbagai negara, mayoritas responden menganggap AI dapat membantu mengurangi pekerjaan administratif yang berulang sehingga mereka dapat fokus pada pekerjaan yang lebih strategis.
Banyak pemimpin perusahaan bahkan menyatakan bahwa kemampuan menggunakan AI akan menjadi nilai tambah saat proses rekrutmen di masa mendatang.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan memanfaatkan AI perlahan mulai dipandang seperti kemampuan menggunakan internet atau aplikasi perkantoran beberapa dekade lalu.
Apakah Menolak AI Berarti Akan Tertinggal?
Hingga saat ini belum ada penelitian ilmiah yang secara eksplisit menyatakan bahwa setiap orang yang menolak AI pasti akan tertinggal.
Baca Juga
Namun, bukti dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa pekerja yang mampu menggunakan AI secara tepat umumnya memiliki produktivitas lebih tinggi dibandingkan mereka yang sama sekali tidak memanfaatkannya.
Jika dua orang memiliki kemampuan dasar yang sama, tetapi salah satunya mampu menggunakan AI untuk mempercepat riset, menyusun laporan, menganalisis data, membuat presentasi, atau menghasilkan ide baru, maka peluangnya untuk bekerja lebih efisien tentu menjadi lebih besar.
Karena itu, risiko tertinggal bukan muncul karena AI menggantikan manusia secara langsung, melainkan karena sebagian pekerja mampu menyelesaikan pekerjaan dengan kualitas dan kecepatan yang lebih baik melalui bantuan AI.
AI Tetap Membutuhkan Kemampuan Manusia
Di sisi lain, para peneliti juga mengingatkan bahwa AI bukan tanpa kelemahan.