fin.co.id - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah lanskap industri secara besar-besaran, termasuk industri kreatif. Di tengah perubahan ini, muncul sosok Bangkit Nuvola, praktisi komunikasi yang berhasil menempatkan dirinya sebagai salah satu konten kreator AI paling menonjol saat ini.
Berangkat sebagai videografer dan komunikator visual, Bangkit melihat AI bukan sekadar tren, tetapi peluang besar untuk mendorong efisiensi sekaligus membuka ruang kreativitas yang jauh lebih luas.
“Saya pikir, AI bukan sekadar teknologi, tetapi masa depan industri kreatif,” ungkapnya.
Namun perjalanan menuju titik ini bukan tanpa rintangan. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana mengintegrasikan teknologi baru tersebut ke dalam proses kreatif agar bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga memberikan nilai nyata bagi audiens maupun klien.
Dari sinilah lahir ciri khas Bangkit: ide-ide orisinal yang memadukan realitas dengan fantasi yang dekat dengan keseharian masyarakat. Mulai dari imajinasi karakter fiksi Naruto bekerja di Indonesia, hingga gambaran Indomaret berdiri di puncak Gunung Rinjani—konten-konten ini menjadi viral karena kedekatannya dengan kultur lokal.
“Inspirasi sering kali muncul dari percakapan ringan atau fenomena sederhana yang sering terjadi di sekitar kita. Justru gambaran kedekatan seperti itulah yang membuat karya lebih cepat viral dan diterima audiens,” jelasnya.
Bagi Bangkit, karya yang berarti bukan semata-mata yang meraih jutaan tayangan, tetapi yang mampu memantik percakapan baru dan membuka perspektif berbeda. Komitmennya terhadap pengembangan AI Advertising pun semakin menegaskan posisinya di industri. Ia menilai pendekatan ini sebagai lompatan besar dibandingkan metode iklan konvensional.
Dengan kecanggihan AI, biaya produksi dapat ditekan hingga 80 persen tanpa menurunkan potensi hasil yang diterima brand. Hal itu pula yang membuat berbagai perusahaan ternama—mulai dari Kalbe, TOP1, hingga Pekan Raya Jakarta—mempercayakan kampanye mereka kepadanya.
“AI memberi fleksibilitas tinggi dalam memvisualisasikan ide, dan juga tidak kalah saing dengan iklan-iklan konvesional yang ada, ditambah harga penawarannya juga bisa dijangkau oleh setiap brand . Dalam proses kreatif dan eksekusinya juga bisa lebih efektif dan efisien,” tegasnya.
Popularitas Bangkit turut merambah panggung internasional ketika ia terpilih sebagai official creator dalam Imagine Art, California, USA. Bagi dirinya, kesempatan itu bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga representasi potensi kreator Indonesia di tingkat global.
“Kreator Indonesia memiliki kesempatan yang sama dengan kreator yang ada dipenjuru dunia. Kita memiliki kekayaan ide yang khas, dan kearifan local yang tinggi justru itu menjadi peluang kita (kreator Indonesia) tinggal bagaimana kita berani memperkenalkannya di panggung dunia,” tuturnya.
Meski demikian, Bangkit tak pernah melangkah sendiri. Ia menekankan pentingnya komunitas dalam membangun ekosistem kreatif berbasis AI. Komunitas AI di Jakarta dan sekitarnya disebutnya sebagai ruang kolaborasi yang memperkuat gagasan, eksperimen, hingga jejaring antar kreator.
“Kolaborasi dalam komunitas mendorong setiap individu untuk terus berkembang, makanya penting bagi teman-teman kreator berjajring di komunitas” ujarnya.
Pada akhirnya, penguasaan AI baginya bukan hanya tentang mengikuti perkembangan teknologi, tetapi tentang kesiapan menyongsong masa depan.
“Bagi saya AI itu trend masa depan gitu. Sisa, apakah kita mau menjemput trend itu atau kita memilih tertinggal gitu. So, To master AI is to take the first step into the future.”