Mengenal Zangi, Aplikasi Rahasia yang Diduga Dipakai Ammar Zoni untuk Transaksi Narkoba

tekno.fin.co.id - 09/10/2025, 21:52 WIB

Mengenal Zangi, Aplikasi Rahasia yang Diduga Dipakai Ammar Zoni untuk Transaksi Narkoba
Aplikasi Zangi - Image by Sigit Nugroho -

fin.co.id - Kasus narkoba yang menyeret aktor Ammar Zoni kembali jadi buah bibir publik. Bukan cuma karena keterlibatannya dalam jaringan narkotika di Rutan Salemba, tapi juga karena munculnya nama aplikasi asing yang belum banyak dikenal: Zangi. Aplikasi ini disebut menjadi saluran komunikasi rahasia bagi para tersangka untuk menjalankan transaksi narkoba dari balik jeruji.

Kini kasus tersebut telah masuk ke Tahap II di Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat, dan publik makin penasaran: kenapa para pelaku memilih Zangi, bukan aplikasi populer seperti WhatsApp atau Telegram?

Zangi, Aplikasi Asal Armenia dengan Fitur Keamanan Super Ketat

Zangi sebenarnya adalah aplikasi perpesanan dan panggilan suara/video asal Armenia. Sekilas mirip dengan aplikasi chat lain, tapi Zangi menonjol karena sistem keamanannya yang tinggi dan tingkat privasi yang sulit ditembus. Inilah alasan mengapa aplikasi ini sering dipakai untuk komunikasi yang “tidak ingin diketahui orang lain.”

Advertisement

Ada beberapa fitur utama yang membuat Zangi menarik bagi pengguna yang ingin menjaga kerahasiaan, bahkan hingga disalahgunakan untuk kegiatan ilegal:

  • Enkripsi Ujung ke Ujung (End-to-End Encryption) — Pesan yang dikirim lewat Zangi dienkripsi di perangkat pengirim dan hanya bisa dibuka di perangkat penerima. Artinya, bahkan pihak Zangi sendiri tidak bisa mengakses isi pesan pengguna.
  • Kualitas Panggilan Stabil — Meski koneksi internet lemah, panggilan lewat Zangi tetap jernih. Ini menjadikannya pilihan ideal di tempat dengan sinyal terbatas seperti dalam rutan.
  • Minim Jejak Digital — Zangi tidak menyimpan data percakapan di server dan diklaim hemat data, sehingga sulit dilacak oleh otoritas.

Pakar Siber Ungkap Daya Tarik Fitur "Anti Sadap"

Pakar keamanan siber Pratama Persadha, Ketua Lembaga Riset Siber Indonesia (CISSReC), menjelaskan bahwa aplikasi seperti Zangi sering jadi pilihan bagi pelaku kejahatan yang ingin lolos dari pantauan hukum.

“Para bandar atau pengedar narkoba cenderung memilih aplikasi dengan jaminan privasi maksimal,” ungkap Pratama kepada Disway.id, Kamis, 9 Oktober 2025. “Zangi, seperti Telegram atau aplikasi terenkripsi lain, punya sistem enkripsi end-to-end yang kuat. Hal ini mempersulit aparat untuk menyadap komunikasi, kecuali mereka berhasil menyita langsung perangkat yang digunakan.”

Menurutnya, fenomena penggunaan aplikasi terenkripsi oleh narapidana menunjukkan adanya “literasi digital yang salah kaprah.” Mereka paham teknologi, tapi menggunakannya untuk menghindari jerat hukum alih-alih hal yang bermanfaat.

Tantangan Serius untuk Aparat Penegak Hukum

Kasus Ammar Zoni membuka mata publik tentang sulitnya memberantas jaringan narkoba di dalam lembaga pemasyarakatan. Selama ponsel masih bisa masuk ke dalam rutan, komunikasi rahasia lewat aplikasi seperti Zangi akan terus terjadi.

Kabar dari Kejari Jakarta Pusat menyebut, pengungkapan kasus ini bukan hasil dari penyadapan aplikasi, melainkan dari investigasi intensif dan kerja sama internal Rutan Salemba. Dugaan aktivitas ilegal mencurigakan mendorong petugas melakukan penggeledahan hingga akhirnya menemukan ponsel, aplikasi Zangi yang terpasang, dan barang bukti narkoba di kamar tahanan.

Advertisement

Pelajaran Penting dari Kasus Ammar Zoni

Kasus ini bukan cuma soal narkoba, tapi juga tentang bagaimana teknologi bisa disalahgunakan di tangan yang salah. Banyak yang menilai, penggunaan aplikasi terenkripsi seperti Zangi harus diwaspadai dan diawasi lebih ketat, terutama di lembaga pemasyarakatan.

Sigit Nugroho
Penulis